Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:41 WIB

Jakarta, VIVA - Pemerintah Indonesia dan Norwegia menggelar forum 'Jakarta Informal Consultation Meeting; Intergovernmental Negotiating Committee on Plastic Pollution', pada 13-14 Oktober 2026.

Baca Juga

Forum itu merupakan upaya kolaborasi antara pemerintah, industri, koperasi, dan pelaku informal, dalam memperkuat rantai nilai daur ulang sekaligus mendukung transisi menuju ekonomi sirkular yang inklusif.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Forum itu juga menjadi ajang pertukaran pembelajaran mengenai penanganan polusi plastik, termasuk pentingnya memastikan transisi yang adil atau just transition. Dalam konteks Indonesia, pekerja informal yang selama ini berperan dalam pengumpulan dan pemulihan material, merupakan bagian dari ekonomi sirkular yang telah berjalan dan perlu diperhitungkan dalam proses transisi.

Baca Juga

Karena itu, transisi yang adil tidak semata-mata berarti menggantikan sektor informal dengan sistem formal, tapi menciptakan jalur menuju kondisi kerja yang lebih baik, perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, penguatan organisasi atau koperasi, akses terhadap infrastruktur dan pasar, peluang ekonomi yang lebih baik, serta mata pencaharian yang lebih tangguh.

Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, Agus Rusly mengatakan, penguatan sistem pengumpulan diperlukan untuk meningkatkan pengelolaan sampah nasional.

Baca Juga

“Sejalan dengan upaya global, Indonesia terus memperkuat kebijakan pengurangan sampah, termasuk melalui penyempurnaan Peraturan Menteri LHK Nomor P.75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen," kata Agus dalam keterangannya, Jumat, 16 Oktober 2026.

Dia menekankan, penguatan tanggung jawab produsen penting untuk mendorong pengurangan sampah sejak dari sumber, sekaligus meningkatkan tanggung jawab terhadap produk dan kemasan setelah digunakan. Implementasinya perlu didukung oleh kesiapan infrastruktur, kapasitas pelaku usaha, keterlibatan pemerintah daerah, serta sinergi dengan sektor informal agar sistem pengurangan sampah semakin terintegrasi dan sesuai dengan kebutuhan nasional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Karenanya, delegasi dari 13 negara di forum itu pun mengunjungi Koperasi Pemulung Berdaya di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, untuk mempelajari model pengelolaan sampah plastik yang menghubungkan kegiatan pengumpulan, daur ulang, dan penguatan pekerja sektor informal. 

"Kunjungan ini memperlihatkan kolaborasi yang baik antara pelaku industri dengan sektor informal dalam rantai daur ulang,” ujarnya. 

Halaman Selanjutnya

Koperasi Pemulung Berdaya mengumpulkan dan memilah botol plastik PET bekas dari wilayah Jabodetabek, untuk disalurkan kembali ke rantai daur ulang. Diinisiasi Aqua pada 2010 dan berbadan hukum koperasi sejak 2013, fasilitas ini menerima hingga 6 ton botol PET bekas per hari. Kegiatannya bahkan sanggup menopang ekonomi 59 anggota koperasi, dan terhubung dengan mata pencaharian sekitar 4.000 pemulung.