asiawebawards.com
  • 2026-08-12 09:04:29 +0000 UTC

    Aug 12, 2026

    Dokter: Tangan kaku saat bangun tidur tanda reumatik autoimun kronis - ANTARA News Bengkulu

    Tangerang (ANTARA) - Dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Sandra Sinthya Langow mengatakan bangun tidur pagi hari alami kaku di kedua tangan dan berlangsung lama, berulang disertai bengkak maka menjadi tanda adanya penyakit Rheumatoid Arthritis (RA) atau reumatik autoimun kronis.

    "Nyeri sendi yang berkepanjangan sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai keluhan biasa. Kita perlu mengetahui penyebabnya karena setiap penyakit memiliki penanganan yang berbeda. Khusus reumatik autoimun kronis, peradangan yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan kerusakan sendi dan pada akhirnya mengganggu fungsi serta kualitas hidup," kata dr. Sandra dalam acara paparan kesehatan di Karawaci Tangerang, Rabu.

    Ia menjelaskan masyarakat masih banyak menilai nyeri sendi sebagai keluhan ringan akibat kelelahan, aktivitas berlebih, atau cedera. Padahal, nyeri sendi yang berlangsung lama, terutama pada pagi hari dapat menjadi tanda adanya penyakit reumatik yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

    Penyakit reumatik autoimun kronis, lanjutnya, dapat menyebabkan peradangan pada sendi. Kondisi ini dapat berkembang secara perlahan dan pada tahap awal sering kali diabaikan karena gejalanya terlihat sederhana.

    Salah satu ciri yang dapat mengarah pada reumatik autoimun kronis adalah nyeri dan kekakuan yang terutama dirasakan pada tangan. Kekakuan biasanya lebih terasa pada pagi hari dan dapat membaik setelah tubuh mulai bergerak atau beraktivitas. Sendi yang paling sering terkena adalah jari dan pergelangan tangan, dengan pola yang dapat terjadi secara simetris pada sisi kanan dan kiri.

    Pada tahap awal, keluhan dapat terasa sederhana. Seseorang merasa sulit bergerak ketika bangun tidur, membutuhkan waktu sebelum dapat beraktivitas seperti biasa, atau merasakan jari tangan lebih bengkak dan cincin menjadi lebih ketat pada pagi hari.

    "Karena keluhan dapat membaik setelah mandi atau mulai beraktivitas, kondisi ini sering kali dianggap sebagai bagian dari kelelahan sehari-hari," katanya.

    Jika peradangan terus berlangsung, lanjutnya, reumatik autoimun kronis dapat berkembang dan mengenai lebih banyak sendi, termasuk lutut, bahu, siku, dan pergelangan kaki.

    "Pada kondisi yang terlambat ditangani, kerusakan sendi dapat menyebabkan perubahan bentuk dan kecacatan permanen," ujarnya.

    Ia juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap obat alami atau tradisional yang tidak memiliki bukti keamanan dan efektivitas yang jelas.

    "Beberapa produk dapat mengandung obat seperti kortikosteroid atau obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang tidak disebutkan secara jelas pada kemasan dan dapat menimbulkan efek samping bila digunakan tanpa pengawasan medis," ujarnya.

    Ia juga menambahkan jika reumatik autoimun kronis tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan satu gejala atau satu hasil pemeriksaan laboratorium. Dokter akan menilai riwayat keluhan, melakukan pemeriksaan fisik, serta mempertimbangkan pemeriksaan penunjang yang sesuai.

    Pemeriksaan dapat mencakup penilaian tanda peradangan pada sendi, pemeriksaan darah seperti Rheumatoid Factor (RF) dan Anti-Citrullinated Protein Antibody (ACPA), termasuk anti-CCP, serta pemeriksaan pencitraan bila diperlukan.

    "Autoimun kronis yang negatif tidak otomatis berarti seseorang tidak mengalami Rheumatoid Arthritis. Ada kondisi yang disebut Rheumatoid Arthritis seronegative. Karena itu, diagnosis tetap harus berdasarkan kombinasi gejala klinis, pemeriksaan dokter, dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan," kata dr. Sandra.

    Untuk pasien yang mengalami nyeri sendi dengan kecurigaan penyakit reumatik autoimun, pemeriksaan oleh dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi atau Rheumatologist dapat membantu menentukan penyebab dan langkah penanganan yang tepat.

    Diagnosis dan terapi sejak dini menjadi bagian penting dalam pengelolaan Rheumatoid Arthritis. Semakin cepat penyakit dikenali, semakin cepat pula dokter dapat menentukan strategi pengobatan untuk mengendalikan penyakit, mempertahankan fungsi sendi, dan membantu mencegah kerusakan sendi permanen.

    Setelah diagnosis RA ditegakkan, Rheumatologist dapat menentukan terapi sesuai kondisi pasien. Pengobatan bertujuan untuk mengendalikan penyakit, mencegah kecacatan sendi permanen, dan meningkatkan kualitas hidup.

    Selain terapi medis, pengelolaan RA juga dapat mencakup edukasi, menjaga berat badan, pengaturan pola makan, istirahat yang cukup, pengelolaan stres, serta olahraga teratur sesuai kondisi pasien.

    "Tujuan pengobatan Rheumatoid Arthritis bukan sekadar menghilangkan rasa nyeri. Kita perlu mengendalikan penyakit dan mencegah kerusakan sendi agar pasien tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik," ujar dr. Sandra.

    Pewarta: Achmad Irfan
    Uploader : Musriadi

    COPYRIGHT © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    2026-08-12 09:04:29 +0000 UTC