Dokter perempuan dalam tim bedah robotik ginekologi RSU Bunda Jakarta, dr Sita Ayu Arumi, SpOG, M.Sc. (Humrepro), FESICOG, MIGS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — “Dok, serem banget dioperasi sama robot.”

Pertanyaan itu masih kerap didengar dr Sita Ayu Arumi, SpOG, M.Sc. (Humrepro), FESICOG, MIGS, dari pasien yang akan menjalani bedah robotik. Kekhawatiran mereka umumnya sama, yakni membayangkan sebuah mesin bekerja sendiri di dalam tubuh.

dr Sita memahami kekhawatiran tersebut. Sebab, sekitar 14 tahun lalu, ketika teknologi bedah robotik masih tergolong baru di Indonesia, ia pun membutuhkan waktu untuk membangun kepercayaan terhadap teknologi tersebut.

Pada 2013, dr Sita menjadi dokter perempuan pertama yang bergabung dalam tim bedah robotik ginekologi di Indonesia. Ketika itu, teknologi tersebut baru sekitar setahun diperkenalkan di RSU Bunda Jakarta.

Pengalaman pertamanya pun berbeda dari operasi konvensional. Ia tidak berdiri di sisi pasien, melainkan duduk beberapa meter dari meja operasi dan mengendalikan instrumen melalui sebuah konsol.

“Awalnya terasa sangat berbeda. Saya juga harus membangun kepercayaan terhadap teknologinya,” ujar dr Sita, dikutip dari siaran pers, Senin (21/9/2026).

Saat itu, bidang tersebut juga masih banyak didominasi dokter laki-laki. Namun, dr Sita melihat ada alasan lain untuk terlibat. Sebagai dokter yang menangani kesehatan reproduksi perempuan, ia ingin ikut memastikan teknologi tersebut berkembang untuk menangani kebutuhan pasien perempuan.

“Awalnya saya sempat mikir, apa iya saya bisa masuk ke sana? Tapi kalau bukan perempuan yang ikut masuk ke ranah ini, siapa lagi yang akan lebih memahami apa yang dibutuhkan pasien perempuan?” katanya.

Menurut dia, dalam pemeriksaan dan penanganan masalah reproduksi, sebagian pasien perempuan merasa lebih nyaman menyampaikan keluhannya kepada dokter perempuan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan yang membuatnya bertahan di bidang bedah robotik.