Jakarta (ANTARA) -
Dokter Spesialis Paru sekaligus Subspesialis Onkologi Toraks MRCCC Siloam Semanggi dr. Linda Masniari, SpP(K) mengatakan kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan paru, termasuk kanker paru, sehingga masyarakat perlu mengurangi paparan polusi.
“Kanker paru hampir 85 persen penyebabnya karena merokok, dan 15 persen penyebabnya bisa karena non-smoker. Jadi kalau kita perokok pasif, itu kemungkinan kanker parunya meningkat 20 sampai 30 persen,” kata Linda dalam MRCCC Siloam Semanggi Media Hospital Tour 2026 di Jakarta, Selasa.
Linda mengatakan rokok tetap menjadi faktor risiko utama kanker paru. Namun, orang yang tidak merokok juga dapat memiliki risiko akibat paparan lingkungan dan faktor lainnya.
Faktor lingkungan tersebut, kata dia, meliputi paparan asap kendaraan bermotor, asap dari pembakaran kayu bakar untuk memasak, serta kondisi lingkungan tempat tinggal.
“Lingkungan seperti tinggal dekat pembuangan sampah juga ada faktor risiko,” ujarnya.
Baca juga: Paparan asap berulang bisa tingkatkan risiko kanker paru
Risiko kanker paru juga dapat meningkat pada orang yang bekerja di lingkungan dengan paparan tertentu. Linda menyebut pekerja pertambangan, galangan kapal, dan pabrik semen sebagai kelompok yang perlu memperhatikan risiko dari lingkungan kerja.
Selain faktor lingkungan, riwayat keluarga juga perlu diperhatikan. Menurut Linda, seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker paru dapat memiliki risiko lebih tinggi karena faktor genetik.
Linda mengatakan masyarakat perlu mengenali faktor risiko yang dimiliki dan mengurangi paparan polusi dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadi udara yang sehat itu penting sekali,” katanya.
Ia menyarankan masyarakat yang tinggal di lingkungan dengan kualitas udara buruk untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan guna mengurangi paparan polusi.
“Kalau udara di lingkungan kita tidak bagus, kita lebih baik kurangi aktivitas outdoor,” ujarnya.
Linda juga mengingatkan pentingnya menghindari paparan asap rokok. Ia menganjurkan anggota keluarga yang merokok untuk berhenti karena hubungan antara paparan rokok dan kejadian kanker paru sangat kuat.
Ia mengatakan kanker paru di Indonesia banyak ditemukan pada kelompok usia di atas 50 tahun. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan faktor risiko serta melakukan pemeriksaan sesuai kondisi dan tingkat risikonya.
Baca juga: Kanker paru stadium awal sering tak disadari pasien
Baca juga: Dokter beberkan kendala penanganan kanker paru di Indonesia
Baca juga: Pria dan wanita tidak merokok miliki risiko kanker paru yang sama
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.