Jakarta -
Belakangan ramai terkait fenomena 'Stop The Wedding', dikaitkan dengan ciri-ciri atau red flag hubungan yang dinilai tidak layak dipertahankan hingga ke jenjang serius. 'Seumur hidup terlalu lama', begitu katanya.
Beberapa kasus yang mencuat termasuk bayi 24 hari meninggal setelah diduga dicekoki telur mentah juga viral dikaitkan netizen sebagai salah satu contoh red flag.
"Nggak usah cek yang aneh-aneh dulu, coba tanya calon suami kalau ibunya, neneknya, kakeknya kasih telur mentah ke bayi mereka, gimana sikapnya?" beber salah satu netizen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau mindsetnya ibu dulu, anak, baru istri, stop the wedding," timpal yang lain.
Menyoal hal ini, psikiater dr Lahargo Kembaren SpKJ menekankan pernikahan bukan hanya untuk mencari orang yang dicintai, tapi siap menjalani kehidupan berbarengan.
Menurutnya, jatuh cinta dan membangun rumah tangga jelas dua hal berbeda. Pada masa pacaran, seringnya seseorang hanya melihat sisi baik pasangan. Berbeda saat sudah memasuki masa pernikahan.
"Dalam pernikahan, kita akan berhadapan dengan keseluruhan kepribadiannya, termasuk kebiasaan, kelemahan, cara mengelola emosi, menghadapi konflik, dan menyelesaikan masalah," beber dr Lahargo kepada detikcom Selasa (13/10/2026).
Menurut dr Lahargo, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan menikah. Salah satunya mengenali pola perilaku pasangan, terutama yang berpotensi menimbulkan masalah dalam kehidupan rumah tangga.
1. Ketidakmatangan emosi
Salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah ketidakmatangan emosi atau emotional immaturity. Hal ini bisa terlihat ketika pasangan mudah marah, sulit menerima kritik, selalu menyalahkan orang lain, atau enggan meminta maaf setelah melakukan kesalahan.
"Pertanyaannya bukan apakah pasangan pernah marah, tetapi bagaimana dia mengelola kemarahannya," jelas dr Lahargo.
Selain itu, pasangan yang terus-menerus menghindari pembicaraan saat muncul masalah juga perlu menjadi perhatian. Dalam pernikahan, kemampuan mengelola emosi dan menyelesaikan konflik menjadi bagian penting agar persoalan tidak berlarut-larut.
2. Perilaku mengontrol dan manipulatif
Perilaku lain yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan mengontrol pasangan, mulai dari mengatur pakaian, pertemanan, pekerjaan, hingga membatasi hubungan dengan keluarga.
Ada pula perilaku manipulatif, misalnya membuat pasangan merasa bersalah setiap kali memiliki pendapat berbeda. Ancaman mengakhiri hubungan atau menyakiti diri sendiri untuk memaksakan kehendak juga dapat menjadi bentuk manipulasi emosional.
"Cinta yang sehat memberikan rasa aman, bukan rasa takut," tegasnya.
Hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi kedua pihak untuk menjadi diri sendiri. Perbedaan pendapat pun semestinya bisa dibicarakan tanpa ancaman atau tekanan.
3. Kurangnya empati
Kemampuan memahami perasaan pasangan juga penting diperhatikan sebelum menikah. Kurangnya empati dapat terlihat ketika seseorang meremehkan perasaan pasangannya, menganggap masalah yang dihadapi terlalu berlebihan, atau tidak menunjukkan kepedulian ketika pasangan sedang kesulitan.
Dalam hubungan yang tidak seimbang, satu pihak bisa terus-menerus dituntut untuk memahami dan mengalah, sementara pihak lainnya tidak berusaha melakukan hal yang sama.
"Pernikahan membutuhkan dua orang yang mampu saling memahami, bukan satu orang yang terus-menerus mengalah," ujarnya.
4. Ketidakjujuran dan tidak bertanggung jawab
Kejujuran merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun rumah tangga. Karena itu, kebiasaan berbohong, mengingkari janji berulang kali, atau menyembunyikan persoalan keuangan perlu dibicarakan secara serius sebelum menikah.
Begitu pula jika pasangan tidak bertanggung jawab terhadap pekerjaan maupun kewajibannya, atau menyembunyikan utang dan kebiasaan berisiko, seperti berjudi.
"Kepercayaan adalah fondasi pernikahan. Tanpanya, hubungan akan mudah goyah," kata dr Lahargo.
Persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut kebiasaan pribadi. Jika tidak dibicarakan sejak awal, dampaknya bisa meluas pada kepercayaan, kondisi finansial, dan pembagian tanggung jawab setelah menikah.
5. Agresi dan kekerasan
Tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan adalah perilaku agresif dan kekerasan. Bentuknya tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga membentak, menghina, mempermalukan, mengancam, mengintimidasi, hingga merusak barang untuk menakut-nakuti pasangan.
Memaksa aktivitas seksual atau melanggar batasan tubuh pasangan juga termasuk perilaku yang serius.
Perilaku tersebut tidak semestinya dianggap sebagai hal biasa hanya karena pasangan dikenal temperamental atau sedang menghadapi tekanan. Kekerasan bukan bagian yang wajar dari hubungan romantis dan tidak bisa dibenarkan atas nama cinta.
6. Tidak mau berkembang dan mengevaluasi diri
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kesediaan pasangan untuk belajar dan memperbaiki diri. Pasangan yang selalu merasa benar, menolak mengakui kesalahan, atau menganggap hanya pihak lain yang harus berubah dapat menyulitkan penyelesaian konflik dalam rumah tangga.
Sebaliknya, hubungan yang sehat membutuhkan keterbukaan untuk menerima masukan, mengevaluasi perilaku, dan mencari solusi bersama. Jika diperlukan, kedua pihak juga perlu bersedia mencari bantuan profesional untuk menyelesaikan persoalan yang sulit diatasi sendiri.
"Dalam pernikahan, bukan hanya mencari pasangan yang baik, tetapi juga pasangan yang mau belajar menjadi lebih baik," tuturnya.
Meski demikian, dr Lahargo mengingatkan, red flag tidak bisa dinilai hanya dari satu atau dua kejadian. Pola perilaku perlu dilihat berdasarkan frekuensi, intensitas, dampak terhadap pasangan, serta kesediaan untuk berubah.
Jangan pula terburu-buru menyimpulkan seseorang memiliki gangguan kepribadian hanya berdasarkan perilaku tertentu.
Mengenali red flag sebelum menikah bukan berarti mencari-cari kesalahan pasangan, melainkan memahami apakah hubungan tersebut memberikan rasa aman, saling menghormati, dan ruang untuk berkembang bersama.
Halaman 2 dari 2
(naf/naf)