Dokter ingatkan jangan FOMO olahraga ekstrem tanpa ukur kemampuan fisik - ANTARA News Jawa Barat
Bandung (ANTARA) - Para dokter dan ahli kesehatan di RS Murni Teguh Naripan Bandung mengingatkan masyarakat agar tidak sekadar mengikuti tren (Fear of Missing Out/FOMO) olahraga ekstrem seperti maraton, "trail running", hingga "Hyrox" tanpa mengukur kemampuan fisik, demi mencegah risiko cedera parah hingga henti jantung mendadak.
Peringatan tersebut disampaikan dalam seminar edukasi kesehatan bertajuk "Safe Pace Strong Heart, Rahasia FOMO Olahraga Ekstrem Tanpa Tumbang" yang digelar di Bandung, Sabtu, guna membedah batas kemampuan jantung dan otot sebelum melakoni aktivitas berintensitas tinggi.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Johan membagikan kalkulasi mandiri bagi masyarakat awam untuk mengukur ambang batas aman detak jantung saat berolahraga ekstrem menggunakan rumus (220 - usia), sebagai panduan agar organ vital tidak bekerja melampaui kapasitasnya.
Direktur RS Murni Teguh Naripan Bandung, dr Rully Sjambali, memaparkan bahwa maraknya kemunculan komunitas kebugaran di Kota Bandung perlu diimbangi dengan pengetahuan medis dasar mengenai respons tubuh.
"Animo masyarakat Kota Bandung untuk hidup sehat melalui olahraga semakin meningkat. Hampir setiap pagi maupun akhir pekan kita melihat banyak orang berolahraga. Komunitas sepeda, dance, yoga, dan lainnya juga terus bertambah," ujar Rully.
Ia menegaskan, kehadiran fasilitas sport medicine di rumah sakit sendiri, dialokasikan untuk memandu pegiat olahraga agar dapat menikmati gaya hidup aktif secara terukur.
"Kami ingin memberikan kontribusi agar masyarakat bisa berolahraga dengan aman, terukur, dan terhindar dari cedera," katanya.
Sementara itu, dokter spesialis kedokteran olahraga dr. Ijan Aprijana menekankan bahwa latihan kardio, penguatan otot, kelenturan, kecukupan hidrasi, asupan gizi, istirahat berimbang, serta gaya hidup bebas rokok merupakan lima fondasi utama untuk membangun stamina tanpa membahayakan jiwa.
"Yang saya amati, apakah olahraga yang mereka lakukan sudah benar, teratur, dan terukur? Melalui edukasi seperti ini, kami ingin olahraga benar-benar memberikan manfaat kesehatan, bukan justru berujung cedera, kecelakaan, bahkan kematian," tutur Ijan menambahkan.
Pewarta: RPG
Editor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.