Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis mata lulusan Universitas Indonesia dr. Sesaria Rizky Kumalasari, Sp. M menjelaskan bahwa abu vulkanik yang mengenai mata harua dibilas dengan air bersih.
"Jika abu vulkanik masuk ke dalam mata maka dapat terjadi perlukaan dan reaksi iritasi karena kontak fisik serta kimiawi," kata Sesaria kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Jika mata terkena abu vulkanik, Sesaria, yang juga Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat Non-Katarak di Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia Cabang Jakarta (Perdami Jaya), menyatakan mata harus diberikan secara tepat. Langkah pertama dapat dilakukan dengan membilas kedua mata dengan air bersih yang mengalir atau gunakan tetes mata yang mengandung air mata buatan.
Setelah itu, segera lepas dan buang lensa kontak yang dipakai dengan tangan bersih untuk menghindari reaksi peradangan yang lebih berat. Sebagai pencegahan, selalu gunakan kacamata pelindung saat beraktivitas di luar ruangan.
Abu atau debu yang dihasilkan dari erupsi gunung berapi berbeda dengan debu biasa. Abu vulkanik merupakan campuran dari berbagai komponen bebatuan, kristal mineral, dan kaca vulkanik yang ukurannya sangat kecil; bahkan hanya dapat dilihat dengan mikroskop.
Baca juga: Ini yang perlu dilakukan saat mesin mobil terpapar abu vulkanik
Struktur abu vulkanik biasanya tajam, bahkan beberapa menyerupai pecahan kaca dengan sudut-sudut tajam tak beraturan. Selain itu, permukaan dari komponen abu vulkanik ini juga dapat mengandung senyawa kimia yang sifatnya asam seperti sulfur oksida.
Berdasarkan karakteristik tersebut, abu yang mengenai mata dapat menimbulkan gejala berupa sensasi benda asing seperti kelilipan, rasa gatal, perih, nyeri, kemerahan, dan sensitif terhadap cahaya, bahkan pada kasus yang berat dapat terjadi peradangan disertai infeksi sekunder.
Secara umum mata yang terpapar abu vulkanik juga bisa mengalami abrasi atau erosi kornea mata. Sebab, serpihan tajam yang menyerupai kaca dari abu vulkanik dapat menggores dan melukai permukaan kornea.
Mata yang terpapar juga bisa terkena konjungtiva atau selaput bening mata berupa mata merah, mata berair, dan keluar kotoran. Hal ini dapat pula disebabkan oleh reaksi dengan senyawa kimiawi yang menyelimuti permukaan abu vulkanik.
Dia menekankan tindakan utama jika terjadi kontak dengan abu vulkanik adalah tidak menguceknya, karena partikel abu vulkanik yang tajam dapat melukai permukaan mata. Sesaria menganalogikannya seperti menggosokkan amplas mikroskopik di permukaan mata.
Selain itu, senyawa kimia yang menyelimuti abu vulkanik dapat menyebar dengan cepat ke seluruh permukaan mata sehingga reaksi peradangan dapat memberat.
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.