DLH PBD: Waspadai kebakaran lahan akibat cuaca panas - ANTARA News Papua Tengah
Sorong (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Papua Barat Daya mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan seiring meningkatnya suhu dan kondisi kemarau di wilayah tersebut.
Kepala DLH Papua Barat Daya Julian Kelly Kambu di Sorong, Sabtu, mengatakan perubahan iklim yang semakin ekstrem berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, baik yang dipicu oleh aktivitas manusia maupun faktor alam.
"Kita perlu ada kewaspadaan dan kehati-hatian untuk menjaga lingkungan, karena panas bumi yang semakin tinggi dan perubahan iklim dapat memicu terjadinya kebakaran," katanya.
Menurut dia, kondisi perubahan iklim saat ini perlu menjadi perhatian bersama karena dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kebakaran lahan, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketersediaan air permukaan dan air tanah.
Ia mengatakan upaya pencegahan kebakaran tidak dapat hanya dibebankan kepada DLH, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan.
"Ini bukan tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup saja. Harus ada kesadaran bersama, bangkit dari diri kita masing-masing untuk menjaga lingkungan," ujarnya.
Julian juga menyoroti potensi kebakaran di tempat pembuangan akhir (TPA), terutama karena kebakaran di lokasi tersebut dapat menghasilkan gas metana yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.
Ia menyebut kebakaran yang terjadi di TPA Manokwari hingga kini masih menjadi perhatian, sementara di kawasan Sorong Makmur juga sempat terjadi kebakaran.
"Kita takut kalau TPA terbakar karena ada gas metana. Kalau gas metana ini menyebar ke wilayah kota, tentu sangat berbahaya bagi masyarakat yang menghirupnya," katanya.
Menurut Julian, pencemaran udara akibat kebakaran juga perlu diwaspadai karena berbeda dengan pencemaran air yang relatif mudah terlihat. Sementara pencemaran udara sering kali tidak dapat dilihat secara langsung oleh masyarakat.
Karena itu, DLH Papua Barat Daya mendorong kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, kelompok tani hutan, aparat penegak hukum, serta berbagai pemangku kepentingan dalam mencegah dan menangani kebakaran.
Julian mencontohkan kebakaran yang pernah terjadi di kawasan belakang Korem di Kota Sorong pada malam hari. Kondisi medan dan akses menuju lokasi menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman.
"Kebakaran di Kota Sorong sudah beberapa kali terjadi. Kita juga kesulitan mengambil air karena kondisi kemarau. Jadi masyarakat harus waspada, termasuk kesiapan pemadam kebakaran," ujarnya.
Ia berharap ke depan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran dapat diperkuat melalui kerja sama lintas sektor, termasuk dengan pihak bandara dan Pertamina untuk mendukung ketersediaan sumber daya dalam penanganan kebakaran.
Julian kembali mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan, khususnya selama kondisi panas dan kemarau yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran lahan.
Pewarta: Yuvensius Lasa Banafanu
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.