Sidoarjo, Jawa Timur (ANTARA) - Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) menilai jalur kereta api (KA) di wilayah Kecamatan Porong, Sidoarjo, memerlukan solusi permanen agar dapat menjadi jalur pengembangan Surabaya Regional Railway Line (SRRL).
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya DJKA Denny Michels Adlan dalam keterangan diterima di Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis, menyatakan jalur kereta api Sidoarjo-Tanggulangin-Porong yang berada di sisi tanggul Lumpur Lapindo dinilai membutuhkan solusi permanen karena kondisi geologi yang berpotensi mengalami perubahan.
"Sesuai permintaan Wakil Gubernur Jawa Timur untuk dapat mengembangkan SRRL di luar lingkup fase yang sudah ada. Saat ini kami melihat secara langsung bagaimana yang sebenarnya terjadi di wilayah Porong, bersama KfW," kata Denny.
Dalam pemetaan yang dilakukan bersama Bank Pembangunan Jerman (KfW), PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi 8 Surabaya, dan konsultan asal Jepang Chodai, melalui survei langsung di jalur Porong, Kamis (27/8), Denny menyebut kondisi jalur tersebut saat ini masih aman dan layak dilintasi kereta api.
Ia menjelaskan keamanan tersebut diperoleh dari upaya peninggian sementara rel kereta api telah dilakukan setiap tahun untuk mengantisipasi perubahan kondisi lintasan.
Denny mengatakan KfW, selaku pihak penyedia pembiayaan berbasis pinjaman yang disubsidi oleh Pemerintah Jerman, tertarik mempelajari potensi permintaan perjalanan di sekitar koridor Surabaya-Sidoarjo, termasuk peluang pengembangan SRRL di luar lingkup fase yang sedang dikerjakan.
DJKA juga menyampaikan rencana relokasi jalur kereta api yang melalui koridor baru melewati Kecamatan Tulangan hingga Kelurahan Gunung Gangsir di Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, sebagai salah satu upaya mengurangi risiko pada jalur eksisting di Porong.
Menurut Denny, relokasi jalur Sidoarjo-Tanggulangin-Porong perlu segera direalisasikan karena material lumpur Lapindo yang terus terangkat ke permukaan tanggul dapat sewaktu-waktu memengaruhi kondisi alam dan jalur kereta api.
Ia menambahkan, pemetaan risiko bersama KfW tersebut, menjadi dasar untuk memperbarui sejumlah studi terdahulu yang dinilai sudah tidak relevan dengan kondisi terkini, sekaligus menyusun kembali perencanaan relokasi yang sempat terhenti sejak pandemi.
"Kami berharap rencana ini dapat terealisasi kembali setelah tersendat selama hampir tujuh tahun, dengan seluruh risiko dan kendala yang telah dipetakan menjadi dasar pembaruan studi dan perencanaan," ujar Denny.
Pewarta: Fahmi Alfian
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.