Dispusip DKI Jakarta gandeng Armanesia siapkan pustakawan era AI Agentik - ANTARA News Megapolitan
Jakarta (ANTARA) - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi (Dispusip) DKI Jakarta dan perusahaan rintisan Armanesia memberikan pelatihan intensif dua hari yang membekali 40 pustakawan dari 40 perguruan tinggi di Jakarta dengan kemampuan kerja praktis menggunakan kecerdasan artifisial generatif (Generative AI/GenAI) dan Agentic AI.
Pelatihan bertajuk “Belajar GenAI dan Agentic AI dari Nol untuk Pustakawan” itu berlangsung pada 27–28 Juli 2026 di Dispusip DKI Jakarta.
“Perpustakaan hari ini tidak hanya menghadapi ledakan informasi, tetapi juga perubahan cara masyarakat berinteraksi dengan informasi,” kata Founder dan CEO Armanesia sekaligus akademisi Universitas Indonesia (UI) Taufik Asmiyanto dalam keterangannya, Selasa.
“Pustakawan perlu mampu memakai AI untuk mengolah pengetahuan, memproduksi konten, dan mengembangkan layanan lebih cepat sekaligus lebih tepat," katanya.
Menurut Taufik, AI keliru bila dibaca sebagai ancaman terhadap profesi pustakawan. “AI bukan pengganti pustakawan; AI adalah penguat daya pikir, kreativitas, dan produktivitas. Tetapi penggunaannya harus disertai kemampuan memverifikasi informasi, menjaga privasi, memahami hak cipta, dan mengidentifikasi bias.
Literasi AI tidak boleh berjalan tanpa etika dan tanggung jawab profesional.” katanya.
Program ini menjawab persoalan yang kini dihadapi hampir seluruh organisasi berbasis pengetahuan: teknologi AI diadopsi jauh lebih cepat daripada kemampuan sumber daya manusia untuk mengendalikannya.
Di perpustakaan perguruan tinggi, jarak itu berdampak langsung pada mutu layanan referensi, integritas akademik, dan kecepatan institusi menjawab kebutuhan sivitas akademika.
Sesi yang paling menyita perhatian peserta adalah produksi video berbantuan GenAI. Dalam 3 jam, setiap kelompok dituntut mengembangkan gagasan, menyusun alur cerita, membangun visual, menghasilkan narasi, hingga menyunting karya akhir.
Peserta menghasilkan beberapa produk bertema layanan dan promosi perpustakaan.
Latihan tersebut dirancang untuk memindahkan titik berat kompetensi: dari kemampuan menjalankan perangkat lunak menuju kemampuan menetapkan tujuan komunikasi, menilai mutu hasil mesin, memperbaiki kelemahan visual dan narasi, serta memastikan karya akhir tetap merepresentasikan keputusan kreatif manusia.
Arif Fadillah, Ketua Subkelompok Pembinaan Perpustakaan Umum, Perguruan Tinggi dan Khusus Kedinasan Dispusip DKI Jakarta, menyatakan pelatihan ini merupakan bagian dari penguatan kapasitas sumber daya manusia perpustakaan menghadapi transformasi digital.
“Pustakawan perlu memahami bukan hanya cara menggunakan aplikasi AI, tetapi juga cara memilih teknologi yang tepat, mengawasi hasilnya, dan menerapkannya untuk meningkatkan mutu layanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menyebut ruang inovasi yang terbuka mencakup promosi koleksi, pendidikan pemustaka, literasi informasi, penyusunan materi pembelajaran, layanan referensi, hingga diseminasi informasi lewat media digital.
Hari kedua memperkenalkan pergeseran teknologi menuju Agentic AI — sistem yang mampu menjalankan rangkaian tugas secara lebih mandiri berdasarkan tujuan, aturan, dan pengawasan yang ditetapkan manusia.
Bagi perpustakaan, kemampuan itu berpotensi menopang penyusunan konsep layanan, pengolahan informasi, rekomendasi sumber, produksi konten, sampai pengelolaan pekerjaan rutin.
Pelatihan menegaskan satu prinsip yang tidak dapat ditawar: keputusan penting dan validasi akhir tetap berada di tangan pustakawan.
Prinsip human-in-the-loop inilah yang membedakan otomatisasi yang bertanggung jawab dari pelimpahan wewenang kepada mesin.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas profesi, perguruan tinggi, dan pelaku teknologi menjadi kunci agar transformasi AI tidak berhenti sebagai adopsi aplikasi, melainkan bermuara pada peningkatan mutu layanan, perlindungan hak pemustaka, dan penguatan peran sosial perpustakaan.
Ke depan, penyelenggaraan pelatihan serupa dinilai perlu berkelanjutan dan diperluas kepada arsiparis, yang menghadapi tantangan sejenis dalam pengelolaan dokumen, deskripsi arsip, penelusuran informasi, preservasi digital, autentisitas, hak akses, keamanan data, dan pelayanan publik.
Dengan kompetensi AI yang kuat, kritis, dan beretika, pustakawan dan arsiparis dapat memastikan teknologi benar-benar memperluas akses terhadap pengetahuan dan menjaga memori kolektif bangsa.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Dispusip DKI Jakarta, Dr. Nasruddin Djoko Surjono. Materi dibawakan tim narasumber Armanesia yang memadukan latar akademik, riset, dan praktik industri Dr. Taufik Asmiyanto, Founder dan CEO Armanesia sekaligus akademisi Universitas Indonesia; Nafi Al Kautsar Putrawan, peneliti AI; Yusuf Witdiarta, praktisi dan pengembang teknologi informasi; serta Zaidan Abdurrahman, akademisi Universitas Indonesia.
Kurikulum pelatihan sengaja tidak berhenti pada pengenalan aplikasi. Peserta dibawa memahami cara kerja model AI, menyusun instruksi (prompt) yang efektif, mengevaluasi keluaran mesin, mengenali batas kemampuan teknologi, serta menimbang aspek etika, privasi, bias, dan hak cipta pada setiap keputusan penggunaan.
Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.