Rabu, 7 Oktober 2026 - 06:20 WIB

Jakarta, VIVA –Empat Anak Buah Kapal (ABK) Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban penyanderaan di kapal MT Honour 25 akhirnya tiba di Indonesia pada Selasa (6/10/2026). Keempat ABK tersebut sebelumnya disandera selama lebih dari lima bulan di Somalia sebelum berhasil dibebaskan melalui operasi bersenjata pada akhir September 2026.

Baca Juga

Duta Besar Indonesia untuk Kenya merangkap Somalia, Witjaksono Adji, menjelaskan kepulangan keempat ABK tersebut terjadi setelah aparat keamanan Puntland, Somalia, melakukan operasi penyelamatan pada 29 September 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Witjaksono, operasi tersebut awalnya ditujukan untuk membebaskan sandera di kapal lain yang juga dibajak perompak. Saat itu, tidak ada tanda-tanda bahwa operasi serupa akan dilakukan untuk membebaskan ABK di MT Honour 25.

Baca Juga

"Tetapi, informasi yang kemudian kami terima justru menyebut operasi penyerangan sudah dilakukan untuk membebaskan para ABK di MT Honour 25," kata Dubes Witjaksono saat ditemui usai serah terima para ABK WNI kepada keluarganya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten, Selasa (6/10/2026).

Witjaksono mengakui informasi mengenai operasi penyelamatan tersebut pada awalnya simpang siur. Bahkan, sempat beredar kabar bahwa terdapat WNI yang menjadi korban dalam operasi tersebut.

Baca Juga

Namun, kepastian mengenai kondisi para ABK akhirnya diperoleh langsung dari Kapten MT Honour 25, Ashari Samadikun. Ia memastikan seluruh ABK WNI selamat, meski satu orang mengalami luka.

"Kami mendapat informasi dari Kapten Ashari mengenai (ABK) yang selamat. Menurut konfirmasi dari beliau, semua ABK WNI dalam kondisi hidup, tetapi ada satu yang terluka," ujarnya.

Dubes Witjaksono menyebut WNI yang cedera tersebut terkena tembakan di kaki saat operasi penyelamatan berlangsung. ABK WNI yang dimaksud Dubes adalah Fiki Mutakin (25) yang mengalami luka tembak di kaki kanan. Saat ketibaannya di Jakarta, kaki Fiki masih dalam proses pemulihan sehingga dirinya harus menggunakan alat bantu kursi roda.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia menegaskan bahwa dalam upaya membebaskan ABK WNI yang disandera, pihaknya terus mengambil langkah diplomasi dan tidak menjadikan operasi bersenjata sebagai opsi utama untuk menyelamatkan mereka.

Di samping pemerintah negara bagian Puntland yang bertanggung jawab atas wilayah laut tempat pembajakan kapal terjadi, mitra lain yang diajak berdialog oleh pihaknya adalah pemerintah pusat Somalia serta jejaring komunitas dan LSM setempat, kata Dubes.

Halaman Selanjutnya

Witjaksono pun menyampaikan rasa syukurnya bahwa keempat WNI ABK MT Honour 25 berhasil selamat dari tahanan para pembajak selama hampir enam bulan dan kini dapat bersatu kembali dengan keluarga mereka di tanah air.