Tangerang (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, Banten mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk mewaspadai paparan abu vulkanik, karena dapat mempengaruhi sistem pernapasan dan menyebabkan iritasi mata serta kulit.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Dini Anggareni dalam keterangan yang diterima di Tangerang, Minggu, mengatakan imbauan ini terkait meluasnya sebaran abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

Dini mengatakan partikel abu vulkanik yang terhirup berpotensi menimbulkan keluhan, seperti batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, hidung berair, hingga sesak napas pada kondisi tertentu. Selain gangguan pernapasan, paparan abu vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.

"Masyarakat perlu memperhatikan kondisi lingkungan dan menghindari paparan abu secara langsung, terutama ketika kualitas udara di sekitar tempat tinggal mengalami penurunan,” katanya.

Dinkes mengingatkan kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi, terutama anak - anak, lansia serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan perlu lebih memperhatikan kondisi kesehatan selama terjadi paparan abu vulkanik.

"Warga yang mengalami keluhan pada saluran pernapasan setelah terpapar abu diimbau segera melakukan penanganan dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila keluhan berlanjut," ujarnya.

Dinkes Kota Tangerang juga memastikan fasilitas pelayanan kesehatan tetap dapat dimanfaatkan masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan. Warga yang mengalami gangguan kesehatan dapat mendatangi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan sesuai kondisi.

”Pemkot Tangerang mengajak masyarakat bersama-sama meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak abu vulkanik. Dengan mengenali gejala dan segera mendapatkan pertolongan ketika mengalami gangguan kesehatan, masyarakat dapat mengurangi risiko dampak paparan abu vulkanik terhadap kesehatan,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Pelaksan BPBD Kota Tangerang Mahdiar mengatakan sebagian besar sejumlah wilayah setempat terdampak sebaran abu vulkanik akibat erupsi menerus Gunung Anak Krakatau (GAK).

Berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 5 September 2026 pukul 21.00 WIB yang diterima BPBD Kota Tangerang, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Sebaran dari permukaan hingga ketinggian 20.000ft teramati ke arah tenggara-selatan, mencakup sebagian Banten dan Jawa Barat, serta perairan sekitarnya

Sebaran dari permukaan hingga ketinggian 50.000ft teramati ke arah barat daya-barat laut, mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatera Barat, Selat Sunda bag. Selatan, serta Samudera Hindia di sebelah barat Lampung dan Banten.

Kepala Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau, Deni Mardiono mengatakan hujan abu vulkanik dengan intensitas tipis imbas erupsi Gunung Anak Krakatau mulai melanda daratan pesisir Banten. Sebaran material vulkanik tersebut terbawa oleh embusan angin yang bergerak mengarah ke wilayah timur atau pesisir Banten.

"Gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat atau wisatawan tidak boleh mendekat dalam radius bahaya tiga kilometer dari kawah," ujarnya.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.