Dinkes Batam perkuat intervensi guna tekan kenaikan prevalensi stunting
Rabu, 26 Agustus 2026 20:40 WIB
Illustrasi - Beberapa anak sedang beraktivitas di kelas PAUD di Pulau Buluh Batam, Kepri. ANTARA/Amandine Nadja
Batam (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Kepulauan Riau memperkuat intervensi sensitif dan spesifik untuk menekan prevalensi stunting dengan menyasar kelompok remaja, ibu hamil, dan balita serta melibatkan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Batam.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Batam Anggraini Nawang Wulan mencatat prevalensi stunting sebesar 1,07 persen pada semester I 2026.
Angka tersebut berdasarkan hasil pengukuran terhadap 63.037 balita di seluruh wilayah Batam, dengan 677 balita yang masuk kategori stunting.
“Prevalensi di angka 1,07 persen adalah berkat kerja semua pihak. Penanganan stunting bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan, tetapi semua pihak yang tergabung dalam TPPS Batam,” kata Anggraini saat dihubungi di Batam, Rabu.
Jika dibandingkan dengan data semester II 2025, jumlah balita yang diukur pada semester I 2026 lebih rendah. Pada Desember 2025 tercatat 69.919 balita telah diukur, dengan 697 balita mengalami stunting atau prevalensi sebesar 1 persen.
Sementara itu, dari tahun 2020 prevalensi stunting di Batam terus menurun. Dengan 15,2 persen pada 2022, 2,3 persen pada 2023, serta 1,28 persen pada 2024.
Anggraini mengatakan, Pemkot Batam terus memperkuat intervensi untuk menekan angka stunting melalui intervensi spesifik dan sensitif.
Menurut dia, perhatian diberikan sejak masa remaja, kehamilan, hingga anak memasuki usia balita.
Ia menjelaskan, intervensi spesifik berkontribusi sekitar 30 persen dalam penanganan stunting. Intervensi tersebut diberikan secara langsung untuk mencegah maupun menangani masalah gizi.
Sebelum kelahiran, upaya dilakukan melalui pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi remaja putri, konsumsi 90 tablet tambah darah selama kehamilan, serta pemberian tambahan asupan gizi bagi ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis.
“Setelah kelahiran, intervensi yang diberikan seperti pemberian ASI eksklusif bagi bayi berusia di bawah enam bulan, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) untuk anak usia 6-23 bulan, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, hingga penanganan balita gizi kurang dan gizi buruk,” katanya.
Selain itu, imunisasi dasar lengkap juga menjadi bagian dari intervensi spesifik.
Sementara itu, intervensi sensitif memiliki kontribusi sekitar 70 persen dan mencakup berbagai faktor di luar layanan kesehatan langsung.
“Intervensi sensitif ini seperti memastikan keluarga memiliki akses air minum, sanitasi layak, pendampingan keluarga berisiko stunting, pelayanan KB (keluarga berencana) pascapersalinan, pemeriksaan kesehatan pasangan usia subur dan lainnya,” katanya.
Anggraini menegaskan, penguatan kedua jenis intervensi tersebut dilakukan secara berkelanjutan agar penurunan prevalensi stunting di Batam dapat dipertahankan.
Pewarta : Amandine Nadja
Editor:
Ogen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.