CNN Indonesia

Jumat, 25 Sep 2026 23:30 WIB

Apa itu inemuri?
Ilustrasi. Jepang mengenal istilah inemuri yakni kebiasaan tidur siang di kantor. Inemuri tidak dilihat sebagai tanda seseorang malas bekerja. (ilustrasi/thinkstock)

Jakarta, CNN Indonesia --

Tidur saat jam kerja seringkali dianggap sebagai tanda sedang bermalas-malasan, apalagi kalau sampai ketahuan atasan. Namun kalau kamu bekerja di sebuah kantor di Jepang ada yang disebut inemuri. Tidur siang di kantor tidak akan membawa petaka.

Di Jepang tidur di sela jam kerja tidak akan dianggap malas. Terdapat istilah inemuri yang secara sederhana bisa diartikan sebagai tidur sambil tetap hadir. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Istilah ini bukan sekadar tidur siang untuk mengusir kantuk, tetapi berkaitan dengan bagaimana masyarakat Jepang memandang kehadiran, kesibukan, dan kerja keras seseorang.

Peneliti budaya Jepang dari University of Cambridge, Dr Brigitte Steger, telah mempelajari praktik tidur di Jepang, termasuk inemuri. Menurut penelitiannya, tidur di tempat umum di Jepang dapat menjadi bagian dari kehidupan sosial dan tidak selalu dianggap sebagai perilaku malas.

Apa itu inemuri?

Berbeda dari tidur siang biasa, inemuri tidak selalu berarti seseorang benar-benar meninggalkan aktivitas yang sedang berlangsung. 

Steger menjelaskan bahwa orang yang melakukan inemuri tetap diharapkan bisa kembali terlibat ketika dibutuhkan. Karena itu, konteks dan cara seseorang tidur menjadi penting.

Dalam situasi tertentu, seseorang juga bisa memejamkan mata dalam rapat, tetapi tetap berada di tempatnya dan siap kembali mengikuti pembicaraan ketika diperlukan.

Penelitian Steger juga menyebut praktik tidur di ruang publik tersebut bahkan ditemukan dalam berbagai situasi, mulai dari perjalanan, taman, perpustakaan, kafe, hingga rapat dan kegiatan belajar. Inemuri  pun bukan sekadar tidur di tempat umum. Ada unsur tetap hadir secara sosial meski tubuh sedang beristirahat sejenak.

Kenapa tidur di kantor tidak selalu dianggap malas?

Salah satu alasan inemuri bisa diterima adalah kaitannya dengan etos kerja. Dalam konteks budaya Jepang, rasa lelah setelah bekerja keras dapat dipandang sebagai tanda bahwa seseorang memang sedang menjalankan tanggung jawabnya. Tidur sebentar karena kelelahan tidak selalu dibaca sebagai keengganan bekerja.

Akan tetapi, penerimaan terhadap inemuri ini juga tidak selalu sama untuk semua orang. Menurut Steger, posisi seseorang dalam hierarki sosial dapat memengaruhi seberapa bebas ia melakukan inemuri. Karyawan yang lebih muda atau baru masuk kerja cenderung diharapkan tetap aktif, sedangkan orang yang lebih senior atau memiliki posisi lebih tinggi dapat memiliki ruang lebih besar untuk beristirahat.

Di balik kesan uniknya, inemuri sebenarnya punya sisi yang lebih kompleks. Jika seseorang harus terlihat sangat lelah agar dianggap sebagai pekerja keras, kondisi tersebut juga menunjukkan adanya tekanan untuk terus bekerja. Adanya hubungan antara tidur, pengurangan waktu tidur, dan nilai-nilai kerja keras dalam masyarakat Jepang.

Oleh karena itu, inemuri tidak seharusnya dipahami sebagai pembenaran untuk bekerja sampai kelelahan. Justru, praktik ini bisa menjadi gambaran tentang bagaimana sebuah masyarakat menegosiasikan kebutuhan tubuh untuk beristirahat dengan tuntutan untuk tetap produktif.

Terlepas dari konteks budaya Jepang, tidur siang dalam durasi tertentu memang memiliki manfaat bagi fungsi kognitif. Sebuah studi yang diterbitkan di Sleep Medicine menunjukkan tidur siang memberikan manfaat kecil hingga sedang pada sejumlah fungsi kognitif, termasuk memori, kewaspadaan, dan kecepatan memproses informasi.

Tidur sebentar memang berpotensi membantu seseorang kembali lebih fokus. Di Jepang, fenomena tersebut punya nama dan konteks budaya sendiri, inemuri.

(anm/els)