Ada masa ketika nama Unilever nyaris identik dengan bisnis barang konsumsi di Indonesia. Merek seperti Pepsodent, Lifebuoy, Sunsilk, Rinso, Bango, Royco hingga SariWangi mengisi berbagai kategori kebutuhan sehari-hari masyarakat di Tanah Air. Namun, kekuatan portofolio tersebut tak lagi cukup untuk menjaga pertumbuhan perusahaan seperti sebelum pandemi Covid-19. 

Kinerja PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menunjukkan perubahan itu. Pada 2020, penjualan perseroan mencapai Rp 42,97 triliun dengan laba bersih Rp 7,16 triliun. Penjualan kemudian turun menjadi Rp 39,55 triliun pada 2021, sempat naik ke Rp 41,22 triliun pada 2022, lalu kembali merosot menjadi Rp 38,61 triliun pada 2023. 

Pada 2024, setelah penyajian kembali laporan keuangan menyusul pemisahan bisnis es krim, penjualan operasi berlanjut tercatat Rp 30,62 triliun dan laba bersih Rp 2,90 triliun. Pada 2025, kinerja mulai membaik dengan penjualan operasi berlanjut Rp 31,94 triliun dan laba bersih Rp 3,54 triliun. 

Kinerja Keuangan UNVR 2020-2025

Kinerja Keuangan UNVR 2020-2025 (Penyajian data diolah menggunakan AI ChatGPT).

Tren penurunan penjualan dan laba bersih perseroan juga terjadi beriringan dengan kinerja saham UNVR di pasar modal RI pascapandemi. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), dalam lima tahun terakhir hingga perdagangan Senin (24/8) pagi ini, harga saham UNVR telah terkoreksi 55,79% dari level Rp 4.060 ke Rp 1.800. Sementara secara tahun berjalan atau year to date (ytd), harga saham tersebut turun 30,77% dari level Rp 2.600 pada pembukaan perdagangan awal 2026. 

Di tingkat global, Unilever PLC justru mencatat pertumbuhan penjualan dalam periode awal pandemi. Penjualan global mencapai € 50,7 miliar pada 2020, naik menjadi € 52,4 miliar pada 2021, dan € 60,1 miliar pada 2022. Penjualan kemudian tercatat € 59,6 miliar pada 2023 dan € 60,8 miliar pada 2024, sebelum turun menjadi € 50,5 miliar pada 2025 seiring perubahan besar dalam portofolio, termasuk pemisahan bisnis es krim. 

Kinerja Keuangan Unilever Global 2020-2025

Kinerja Keuangan Unilever Global 2020-2025 (Penyajian data diolah menggunakan AI ChatGPT).

Perbedaan tersebut menarik. Di Indonesia, UNVR menghadapi tekanan pertumbuhan yang panjang. Di tingkat global, Unilever juga melakukan restrukturisasi, tetapi sekaligus secara sadar memilih bisnis mana yang akan dipertahankan dan dilepas. 

Pengamat pasar modal Hans Kwee menilai persoalan UNVR tidak lagi dapat dijelaskan hanya dengan siklus daya beli, tetapi juga fundamental perusahaan. “Penurunan kinerja UNVR merupakan kombinasi kedua faktor tersebut, namun porsi perubahan fundamental konsumen dan lanskap industri jauh lebih dominan ketimbang sekadar masalah siklus daya beli,” ujar Hans kepada Katadata, pekan lalu.  

Menurut Hans, konsumen Indonesia, terutama generasi muda, semakin brand-agnostic dan mempertimbangkan value for money, pengalaman serta relevansi emosional sebuah merek. Pada saat yang sama, pergeseran belanja ke platform e-commerce dan social commerce memberi ruang lebih besar bagi merek lokal. 

Investment Advisor Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, juga sependapat dengan Hans. “Masalahnya tidak hanya cyclical, tetapi sudah ada unsur structural shift dalam consumer landscape,” katanya.

Kendati demikian, ia menilai kekuatan merek dan jaringan distribusi UNVR masih menjadi keunggulan kompetitif. Tantangannya adalah mengembalikan pertumbuhan volume tanpa mengorbankan margin.

Pengamat pasar modal dan komoditas Wahyu Laksono melihat perubahan serupa. Konsumen kelas menengah-bawah semakin melakukan downtrading ke produk lebih murah, sementara konsumen menengah-atas mencari produk yang lebih spesifik atau niche. Pergeseran kanal penyaluran barang juga mengurangi kekuatan distribusi konvensional yang selama ini menjadi salah satu moat atau ceruk Unilever. 

“Merek lokal memiliki siklus peluncuran produk yang jauh lebih cepat, relevan dengan tren lokal, dan agresif memanfaatkan pemasaran digital berbasis komunitas serta KOL/influencer,” ujar Wahyu.  

Perubahan tersebut kemudian mendorong Unilever mengambil langkah lebih besar: merampingkan portofolio bisnis. 

Pangkas Bisnis Foods, Unilever Fokus ke HPC 

Restrukturisasi Unilever Global berlangsung bertahap. Pada 2020–2021, Unilever masih mengelompokkan bisnisnya ke dalam tiga segmen utama, yakni Beauty & Personal Care (Kecantikan dan Perawatan Pribadi), Home Care (Perawatan Rumah Tangga), serta Foods & Refreshment (Makanan dan Minuman). 

Struktur tersebut berubah pada 2022 ketika Unilever mulai menerapkan lima kelompok bisnis, yaitu Beauty & Wellbeing (Kecantikan dan Kesejahteraan), Personal Care (Perawatan Pribadi), Home Care (Perawatan Rumah Tangga), Nutrition (Nutrisi), dan Ice Cream (Es Krim). Perubahan yang berlaku penuh sejak 1 Juli 2022 itu memisahkan bisnis Beauty dari Personal Care, sementara Foods & Refreshment dipecah menjadi Nutrition dan Ice Cream.  

Struktur lima kelompok tersebut kemudian kembali berubah setelah Unilever memutuskan memisahkan bisnis Ice Cream secara global. Prosesnya tuntas pada akhir 2025. Setelah Ice Cream keluar dari operasi berlanjut, struktur Unilever praktis menyusut menjadi empat kelompok bisnis, yakni Beauty & Wellbeing, Personal Care, Home Care, dan Foods (Makanan). 

Sementara di Indonesia, UNVR sepanjang 2020–2025 secara konsisten melaporkan kinerja bisnisnya dalam dua segmen, yakni Home and Personal Care atau HPC (Perawatan Tubuh dan Rumah Tangga) serta Food and Refreshment (Makanan dan Minuman).  

Dampak restrukturisasi global juga terlihat dalam laporan keuangan UNVR. Pada 8 Desember 2025, bisnis es krim dialihkan kepada PT The Magnum Ice Cream Indonesia dan diklasifikasikan sebagai operasi yang dihentikan. SariWangi kemudian dilepas kepada PT Savoria Kreasi Rasa (Grup Djarum) dan diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual.

Jejak Divestasi Bisnis Makanan UNVR

Jejak Divestasi Bisnis Makanan UNVR (penyajian data diolah menggunakan AI ChatGPT).

Dan proses divestasi UNVR di segmen makanan sepertinya bakal berlanjut. Belum lama ini, emiten itu juga dikabarkan bakal melepaskan bisnis kecap merek Bango dan bumbu penyedap merek Royco. 

Bagi Hans Kwee, pelepasan bisnis makanan seperti SariWangi serta rencana divestasi Bango dan Royco menunjukkan reposisi strategi yang fundamental. Kategori makanan menghadapi tantangan rantai pasok dan fluktuasi harga bahan baku, sedangkan HPC dinilai memiliki margin dan ruang pertumbuhan lebih besar. 

“Langkah pelepasan aset non-core dan perbaikan rantai distribusi memang efektif menstabilkan margin laba dalam jangka pendek,” kata Hans. Namun, menurut dia, langkah tersebut belum cukup untuk mengembalikan growth story UNVR.  

Sementara Alrich melihat divestasi sebagai portfolio optimization. “Divestasi tidak selalu berarti bisnis tersebut buruk,” ujarnya.

Namun, semakin banyak bisnis dilepas, semakin besar konsentrasi pertumbuhan pada bisnis yang tersisa. “Risikonya adalah portfolio concentration,” tuturnya.  

Risiko tersebut semakin relevan setelah Unilever Global mengambil langkah lebih besar, yakni memisahkan bisnis Foods dan menggabungkannya dengan perusahaan bumbu dan rempah-rempah asal Amerika Serikat (AS), McCormick. 

Unilever PLC dan McCormick & Company mengumumkan kesepakatan itu pada 31 Maret lalu. Transaksi diperkirakan menciptakan perusahaan global di bidang flavour dengan nilai enterprise value sekitar US$ 44,8 miliar dan pendapatan gabungan sekitar US$ 20 miliar berdasarkan kinerja 2025. Portofolionya akan mencakup merek seperti McCormick, Knorr, Hellmann’s, Cholula, Maille dan Frank’s.  

Bagi Unilever, transaksi tersebut merupakan bagian dari strategi menjadi perusahaan yang lebih fokus pada HPC. 

“Transaksi ini merupakan langkah tegas berikutnya dalam mempertajam portofolio kami dan mempercepat strategi menuju kategori dengan pertumbuhan tinggi sebagai perusahaan pureplay (pemain murni) HPC senilai € 39 miliar,” kata CEO Unilever Global, Fernando Fernandez, dalam pernyataannya.  

Unilever memperkirakan portofolio yang tersisa memiliki profil pertumbuhan lebih kuat. Bisnis pro forma setelah mengecualikan Foods mencatat pertumbuhan penjualan organik tahunan gabungan 5,4% dalam tiga tahun terakhir, dengan gross margin 48% dan underlying operating margin 19%.  

Dalam transaksi tersebut, Unilever dan pemegang sahamnya akan menerima sekitar 65% ekuitas perusahaan gabungan, senilai sekitar US$ 29,1 miliar, serta pembayaran tunai US$ 15,7 miliar. Dana tunai antara lain digunakan untuk menurunkan utang dan mendukung program share buyback sekitar € 6 miliar pada 2026-2029. Kedua perusahaan menargetkan sinergi biaya sekitar US$ 600 juta per tahun.  

Pada 23 Juli 2026, McCormick mengumumkan model operasional perusahaan gabungan yang akan memiliki empat divisi komersial. Transaksi ditargetkan selesai pada pertengahan 2027 dan masih bergantung pada persetujuan pemegang saham serta regulator.  

Tidak seluruh bisnis Foods Unilever masuk dalam transaksi tersebut. Perimeter kesepakatan mengecualikan bisnis makanan Unilever di India, Nepal dan Portugal, serta Lifestyle & Nutrition, Buavita dan Lipton Ready-to-Drink.  

Bagi Indonesia, pengecualian tersebut penting karena transaksi global tidak otomatis berarti seluruh bisnis Foods yang tercatat dalam laporan UNVR akan keluar dari konsolidasi. 

Corporate Secretary Unilever Indonesia, Mario Abdi Amrillah mengatakan, transaksi masih membutuhkan persetujuan pemegang saham McCormick, regulator dan proses konsultasi dengan perwakilan karyawan. “Hingga transaksi tersebut selesai, Unilever dan McCormick akan terus beroperasi secara independen, dan seluruh kegiatan bisnis akan tetap berjalan seperti biasa bagi kedua perusahaan,” ungkap Mario melalui email kepada Katadata, Rabu (19/8).  

Secara global, Unilever PLC menyatakan pemisahan Foods akan membuat perusahaan tidak lagi mengonsolidasikan pendapatan, aset dan kewajiban Unilever Foods sejak transaksi ditutup. Setelah Foods dipisahkan, sekitar 67% omzet Unilever diproyeksikan berasal dari Beauty, Wellbeing, dan Personal Care, naik dari 51% pada 2025. Unilever menargetkan pertumbuhan penjualan organik mid-single digit dalam jangka menengah, dengan pertumbuhan volume organik minimal 2%.  

Tantangan UNVR Pascadivestasi Bisnis Makanan 

Bagi UNVR, perubahan tersebut membawa peluang sekaligus risiko. Perusahaan dapat memusatkan sumber daya pada HPC dan kategori yang dianggap memiliki pertumbuhan serta margin lebih menarik. Namun, bisnis yang tersisa juga harus menggantikan kontribusi bisnis yang dilepas. 

Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, melihat sinyal awal bahwa strategi tersebut mulai bekerja. Penjualan domestik HPC tumbuh 8,2% pada semester I 2026 dan 12,4% pada kuartal II. Pangsa pasar offline UNVR pada kuartal II mencapai 30,8% secara nilai dan 27% secara volume, naik 110 basis poin secara tahunan.  

Karena itu, Azharys menilai pertumbuhan 2025 hingga semester I 2026 memberikan sinyal kuat mengenai awal fase turnaround

Performa Bisnis Home & Personal Care Unilever Indonesia pada Kuartal II 2026

Performa Bisnis Home & Personal Care Unilever Indonesia hingga Kuartal II 2026 (Sumber: Unilever).

Namun, Alrich lebih berhati-hati dalam melihat aksi korporasi ini. Menurutnya, 2025 baru merupakan early stage of turnaround. Investor masih perlu melihat apakah pertumbuhan ditopang sustainable volume growth, perbaikan pangsa pasar, margin stabil, dan earnings growth yang konsisten.  

Sementara Hans mengingatkan, divestasi dan efisiensi merupakan necessary condition, bukan sufficient condition, untuk mengembalikan pertumbuhan. “Pertumbuhan pendapatan yang sehat tidak bisa hanya bersumber dari kenaikan harga atau pemangkasan biaya operasional,” katanya.  

Wahyu juga menilai kenaikan laba akibat efisiensi portofolio atau keuntungan divestasi tidak boleh disamakan dengan pemulihan bisnis inti. “Kenaikan laba yang ditopang oleh efisiensi portofolio atau keuntungan divestasi dapat memulihkan angka laba bersih dalam jangka pendek. Namun, keberlanjutan pemulihan tersebut menuntut perubahan strategi yang lebih mendasar,” ujarnya.  

Selain itu, pemisahan Foods juga membawa biaya. Di tingkat global, Unilever memperkirakan stranded costs sekitar € 400 juta-€ 500 juta dan biaya restrukturisasi satu kali sekitar € 500 juta pada 2027-2029. McCormick juga mengantisipasi tantangan integrasi organisasi, sistem, proses dan budaya dalam mengejar sinergi US$ 600 juta.  

Pada akhirnya, tantangan terbesar UNVR kembali ke pasar Indonesia, yaitu konsumen yang semakin sensitif terhadap harga, merek lokal yang lebih agresif, dan perubahan kanal distribusi. UNVR perlu mempercepat speed-to-market, memperkuat pemasaran berbasis data dan omnichannel, sekaligus memastikan pertumbuhan benar-benar berasal dari volume. Azharys juga menilai investor perlu mencermati konsistensi ekspansi pangsa pasar, pemanfaatan dana hasil divestasi untuk inovasi, serta kelincahan manajemen menghadapi merek lokal.  

Melepas bisnis makanan dapat membuat UNVR lebih fokus. Namun, fokus tidak otomatis berarti tumbuh. Keberhasilan transformasi akan ditentukan oleh kemampuan bisnis yang tersisa untuk meningkatkan penjualan, merebut kembali pangsa pasar, menjaga margin dan membuat konsumen kembali memilih produk Unilever. 

Unilever sudah memilih jalannya: mempersempit portofolio dan menempatkan HPC sebagai pusat pertumbuhan. Bagi UNVR, pilihan tersebut bisa menjadi awal kebangkitan setelah bertahun-tahun tertekan. Tetapi bisa pula menjadi sekadar proses merapikan perusahaan setelah kehilangan sebagian mesin pertumbuhannya. 

Jawabannya akan terlihat bukan dari transaksi divestasi itu sendiri, melainkan dari kinerja bisnis yang tersisa setelah restrukturisasi mereda.***