Warta Ekonomi, Jakarta -

Co-Founder & Group CEO PT Triniti Dinamik Tbk (TRIN) Ishak Chandra membagikan perjalanan 33 tahun kariernya membangun bisnis, mulai dari kehilangan hampir seluruh aset saat krisis 1998 hingga membawa perusahaan yang dibangunnya melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Perjalanan tersebut dituangkan dalam buku berjudul Bermain di Papan Besar, yang memuat pengalaman Ishak dalam menghadapi berbagai fase bisnis, mulai dari kegagalan, pengambilan keputusan, hingga strategi membangun perusahaan.

Ishak mengatakan motivasi utama penulisan buku tersebut bukan untuk menceritakan keberhasilan, melainkan membagikan proses dan pengalaman yang membentuk perjalanan bisnisnya.

“Sebenarnya motivasi utamanya itu adalah sharing, bukan tentang cerita sukses ya. Tapi menceritakan bagaimana dan apa yang saya alami untuk mencapai hari ini. Jadi ini seperti blueprint dari seorang Ishak Chandra yang minus, bukan hanya nol ya, hingga bisa jadi hari ini,” ujar Ishak.

Buku tersebut ditulis dalam waktu sekitar lima bulan sejak April 2026. Dalam buku itu, Ishak merangkum perjalanan kariernya sejak bergabung sebagai Management Trainee di Astra International pada 1991, berkarier di Soewarna Business Park, Sinar Mas Land, hingga mendirikan dan memimpin Triniti Land.

Triniti Land kemudian mencatatkan saham perdana di BEI pada 15 Januari 2020.

Fokus di Satu Industri Jadi Kunci

Dalam membangun bisnis, Ishak menilai fokus pada satu sektor menjadi salah satu faktor penting untuk menciptakan keunggulan kompetitif.

Menurutnya, setiap industri memiliki siklus naik dan turun sehingga pelaku usaha perlu memahami sektor yang digelutinya secara mendalam.

“Meski saya 35 tahun di industri properti, tapi kalau tentang membangun bisnis, ketika kita menekunkan suatu industri, industri apa pun itu pasti ada naik turunnya. Maka yang perlu kita pelajari adalah fokus pada one sector yang kita kuasai, dengan begitu kita punya advantage lebih besar,” katanya.

Ishak mengatakan keputusan bertahan di sektor properti bukan semata karena industrinya, tetapi karena pemahaman dan kecintaan terhadap bidang yang ditekuni.

“Kalau ditanya kok saya tetap di properti, saya bilang saya nggak ngomong properti. Industri apa pun pasti ada naik turunnya. We focus with what we love for our life,” ujarnya.

Properti Bergantung Momentum dan Dukungan Pemerintah

Terkait kondisi sektor properti saat ini, Ishak menilai berbagai insentif pemerintah harus diberikan pada momentum yang tepat agar mampu memberikan dampak terhadap pasar.

Ia mencontohkan kebijakan seperti pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) maupun subsidi perlu mempertimbangkan kondisi daya beli masyarakat.

“Saya selalu katakan bahwa insentif, semuanya itu tergantung momen. Kalau momen nggak tepat, itu nggak bakal menstimulus juga. Jadi harus cari momen,” jelasnya.

Menurut Ishak, sektor properti memiliki hubungan erat dengan kondisi politik dan kebijakan pemerintah karena merupakan investasi jangka panjang.

“Properti itu sangat relate sama pemerintah dan politik. Karena apa? Karena properti itu adalah long term investment. Apalagi investasi, kalau misalnya politik nggak stabil, pemerintah nggak support, orang yang mau beli properti apalagi yang investasi, itu pasti akan stop,” katanya.

Meski demikian, ia menilai pelaku bisnis tetap harus mampu melihat peluang di tengah perubahan kondisi pasar. Menurutnya, penurunan di sektor properti tidak berarti seluruh subsektor mengalami tekanan yang sama.

“Properti lagi turun, belum tentu semua sektor dan subsektor itu turun. Pasti ada naiknya. Kayak sekarang, properti lagi turun, lagi stagnan, tapi data center lagi naik. Logistik lagi naik. Jadi sebagai pebisnis, harus pandai melihat peluang,” ujar Ishak.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.