Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
12 September 2026 19:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Satu jawaban salah masih bisa dimaafkan. Namun, kesalahan kedua membuat calon pengemudi di Yunani gagal mendapatkan surat izin mengemudi (SIM).
Ujian teori SIM mobil di negara itu terdiri atas 30 soal pilihan ganda yang harus diselesaikan dalam waktu 35 menit. Peserta wajib memberikan sedikitnya 29 jawaban benar sehingga nilai kelulusannya mencapai 97%.
Materi yang diujikan mencakup rambu dan marka jalan, batas kecepatan, hak utama pengguna jalan, keselamatan kendaraan, serta peraturan lalu lintas lainnya.
Standar itu menempatkan Yunani sebagai negara dengan ujian teori mengemudi paling ketat dalam pemeringkatan AutoviaTest yang dilansir dari Visual Capitalist.
Meski ujiannya sulit, jalan raya Yunani belum sepenuhnya aman. Negara tersebut mencatat sekitar 61 kematian akibat kecelakaan lalu lintas per satu juta penduduk pada 2023, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Uni Eropa sebanyak 46 kematian.
Di bawah Yunani terdapat Jepang dengan nilai kelulusan 95%. Vietnam, Selandia Baru, dan Australia menyusul dengan batas nilai masing-masing 91%.
Setelah lima negara tersebut, jarak nilainya semakin tipis. Sebanyak 13 negara menetapkan batas kelulusan 90%, sementara tujuh negara lainnya berada di kisaran 86%-88%.
Eropa mendominasi daftar dengan menempatkan 16 negara atau 64% dari keseluruhan peringkat.
Jepang Perketat Tes Pengemudi Lansia
Proses memperoleh SIM di Jepang tidak berhenti pada ujian tertulis. Peserta juga harus melewati tes praktik untuk membuktikan kemampuannya mengendalikan kendaraan.
Sebagian warga asing yang ingin menukar SIM dari negara asal juga dapat diminta mengikuti kedua tahap tersebut. Ketentuannya bergantung pada negara yang menerbitkan SIM.
Pemerintah Jepang kini menambah perhatian terhadap pengemudi berusia di atas 75 tahun yang memiliki catatan pelanggaran lalu lintas.
Kelompok tersebut akan menghadapi latihan mengubah arah kendaraan dalam ujian praktik. Materi baru ini digunakan untuk menilai ketepatan pengemudi ketika menginjak pedal gas dan rem.
Perubahan dilakukan setelah kasus pengemudi lansia keliru menginjak kedua pedal masih memicu kecelakaan. Badan Kepolisian Nasional Jepang mencatat kelompok usia di atas 75 tahun menjadi penyebab sekitar 18% kecelakaan fatal pada tahun sebelumnya.
Nilai Tinggi Belum Menjamin Jalan Lebih Aman
Pemeringkatan AutoviaTest hanya membandingkan nilai minimum kelulusan. Daftar tersebut belum mencakup seluruh proses mendapatkan SIM karena jumlah soal, durasi pengerjaan, tes praktik, dan tingkat kesulitan ujian berbeda di setiap negara.
Negara yang memakai metode penilaian lain juga tidak dimasukkan. Jerman, misalnya, menggunakan sistem pengurangan poin berdasarkan tingkat kesalahan sehingga hasilnya tidak dapat dibandingkan langsung dalam bentuk persentase.
Keselamatan di jalan pun tidak hanya bergantung pada kemampuan menjawab soal. Perilaku pengemudi, penegakan hukum, kondisi jalan, dan kelayakan kendaraan memiliki peran yang tidak kalah besar.
Perbedaan kebiasaan berkendara ikut menambah risiko ketika seseorang berada di luar negeri. Survei Scrap Car Comparison terhadap 2.000 pengemudi menemukan bahwa mengemudi di sisi jalan yang berlawanan menjadi kekhawatiran terbesar responden.
Sebagian besar negara menggunakan sisi kanan jalan. Sementara itu, sekitar sepertiga negara, termasuk Indonesia, Jepang, Inggris, Australia, dan Singapura, menggunakan sisi kiri.
Ujian menjadi tahap awal untuk memastikan calon pengemudi memahami peraturan. Penerapannya di jalan tetap menjadi penentu yang lebih penting dalam mencegah kecelakaan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw)