Jakarta -
Cara seseorang berbicara dapat mencerminkan bagaimana ia memahami perasaan orang lain sekaligus menghadapi sebuah persoalan.
Pilihan kata yang digunakan sering kali menunjukkan apakah seseorang mampu berempati tanpa mengesampingkan logika.
Orang dengan empati yang tinggi cenderung memikirkan perasaan dan dampak perkataannya sebelum bertindak. Di sisi lain, pola pikir logis membuat seseorang mampu melihat persoalan secara objektif dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika keduanya berjalan seimbang, seseorang dapat menyikapi berbagai situasi dengan lebih bijak tanpa mengabaikan perasaan orang lain. Ciri tersebut pun dapat terlihat dari beberapa kalimat yang sering diucapkan dalam percakapan sehari-hari.
Melansir dari Your Tango, berikut beberapa kalimat yang dapat Bunda kenali dari orang dengan empati tinggi dan berpikir logis.
1. “Sepertinya dia menyebabkan masalah bagimu”
Ungkapan ini membuat orang lain merasa diperhatikan. Atau, jika pembicara salah, ungkapan ini memungkinkan orang lain untuk mengoreksinya tanpa ada ikatan emosional. Di tempat kerja, ini adalah keterampilan yang sangat berharga, terutama bagi para atasan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Yang Woon Chun, Seunghee Im, dan Jung Eun Kim, mereka menemukan bahwa karyawan dengan kepedulian empatik dapat memperoleh banyak manfaat individu, organisasi, dan masyarakat.
2. “Kamu boleh merasa seperti itu”
Orang yang empati dan logis memahami bahwa orang lain perlu merasakan emosinya agar akhirnya dapat melihat suatu situasi dengan jelas.
Jika orang tidak diizinkan untuk merasakan emosinya, mereka hanya akan merasakan frustrasi yang menumpuk, yang hanya akan bertambah seiring waktu. Ungkapan ini menyatakan bahwa validitas emosi tidak sama dengan fakta kejadian, tetapi tetap penting.
3. “Mari kita pisahkan apa yang terjadi dari bagaimana perasaan kita”
Sangat mudah bagi kita untuk terjebak dalam pikiran sendiri. Terkadang, kita melihat suatu situasi sebagai serangan pribadi, padahal kenyataannya mungkin tidak demikian.
Orang yang empati dan analitis dapat membantu orang lain mengatasi masalah mereka dengan membantu mereka memisahkan perasaan dari fakta.
4. “Bantu saya memahami apa yang sebenarnya terjadi”
Ungkapan ini mendorong seseorang untuk berbagi masalah tanpa merasa diserang. Ada tiga jenis empati, kognitif, emosional, dan welas asih.
Empati kognitif adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan memahami emosi orang lain. Empati emosional adalah ketika Bunda merasakan apa yang dirasakan orang lain.
Terakhir, empati welas asih adalah kemampuan tidak hanya untuk memahami apa yang dialami orang lain, tetapi juga untuk membantu mereka.
Kalimat “Bantu saya memahami” menggunakan ketiga jenis empati, memungkinkan pembicara untuk mengidentifikasi emosi, merasakannya, dan menemukan solusi.
5. “Mari kita cari tahu mengapa ini terus terjadi”
Orang yang sangat analitis akan melihat masalah dari sudut pandang logis. Namun, mereka berusaha menemukan akar penyebabnya sambil mempertimbangkan perasaan orang lain dan membuatnya merasa aman.
Jadi, mereka akan mendengarkan keluhan-keluhan untuk memahami pola sebenarnya. Kemudian, mereka dapat menemukan solusi yang memperbaiki masalah sekaligus membangun hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
6. “Bagaimana saya bisa membantu”
Ketika dihadapkan pada suatu masalah, orang-orang dengan pikiran yang logis mencoba untuk mengatasi situasi tersebut. Alih-alih panik, yang pada akhirnya akan menyebabkan lebih banyak masalah, mereka hanya mencoba untuk membantu.
7. “Apa yang kamu butuhkan saat ini?”
Ini adalah ungkapan yang benar-benar menggunakan pikiran analitis sekaligus memvalidasi orang lain. Membiarkan orang lain mendapatkan sumber daya yang merek butuhkan adalah hal terbaik yang dapat dilakukan dalam situasi krisis.
Nah, itulah beberapa kalimat yang sering diucapkan orang dengan empati tinggi dan berpikir logis. Bunda juga termasuk?
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)