Ciri-ciri gula darah tinggi yang sering diabaikan
Jakarta (ANTARA) - Ciri-ciri gula darah tinggi kerap kali diabaikan seseorang, padahal ciri tersebut bisa mengindikasikan gula darah sudah melewati batas yang seharusnya.
Gula darah tinggi atau hiperglikemia merupakan kondisi ketika kadar glukosa dalam darah melebihi batas normal. Kondisi ini umumnya berkembang secara bertahap sehingga banyak orang tidak menyadari gejalanya hingga hasil pemeriksaan menunjukkan kadar gula darah sudah tinggi.
Hiperglikemia sering dikaitkan dengan diabetes, meskipun kondisi ini juga dapat dipicu oleh berbagai faktor lain. Gula darah yang terus berada di atas batas normal dapat meningkatkan risiko kerusakan pembuluh darah serta berbagai organ penting, seperti mata, ginjal, saraf, dan jantung.
Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup insulin atau tidak mampu menggunakan insulin secara efektif. Insulin merupakan hormon yang berperan membantu glukosa masuk ke dalam sel tubuh untuk diubah menjadi energi. Ketika proses tersebut terganggu, glukosa akan menumpuk di dalam aliran darah.
Baca juga: Ahli gizi jelaskan pengaruh buah sebelum tidur terhadap gula darah
Baca juga: Konsumsi alpukat dikaitkan dengan perbaikan pengelolaan gula darah
Pada tahap awal, hiperglikemia sering kali tidak menimbulkan keluhan yang khas. Gejalanya berkembang perlahan dan kerap dianggap sebagai akibat kelelahan, kurang tidur, atau pertambahan usia. Padahal, mengenali tanda-tanda awal gula darah tinggi sangat penting agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin dan mencegah komplikasi yang lebih serius.
Berikut beberapa ciri-ciri gula darah tinggi yang sering diabaikan.
1. Sering buang air kecil
Salah satu gejala paling umum dari gula darah tinggi adalah meningkatnya frekuensi buang air kecil atau poliuria.
Kondisi ini terjadi karena ginjal bekerja lebih keras untuk menyaring dan membuang kelebihan glukosa melalui urine. Akibatnya, seseorang menjadi lebih sering buang air kecil, terutama pada malam hari.
2. Sering merasa haus
Sering buang air kecil menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan sehingga memicu dehidrasi. Kondisi tersebut membuat penderita terus merasa haus atau polidipsia meskipun sudah banyak minum.
Apabila rasa haus berlangsung terus-menerus tanpa penyebab yang jelas, kondisi ini sebaiknya tidak diabaikan.
3. Luka sulit sembuh
Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah dan mengganggu aliran darah ke jaringan tubuh.
Akibatnya, pasokan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk memperbaiki jaringan menjadi berkurang sehingga proses penyembuhan luka berlangsung lebih lambat.
Luka pada kaki maupun tangan juga lebih berisiko mengalami infeksi apabila kadar gula darah tidak terkontrol.
4. Sering merasa lapar
Rasa lapar yang berlebihan atau polifagia juga dapat menjadi tanda hiperglikemia.
Meskipun seseorang telah makan dalam jumlah cukup, sel-sel tubuh tidak memperoleh glukosa yang dapat digunakan sebagai sumber energi. Akibatnya, tubuh terus mengirimkan sinyal lapar untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut.
5. Mudah lelah
Tubuh memerlukan glukosa sebagai bahan bakar utama untuk menghasilkan energi.
Ketika insulin tidak mampu membawa glukosa masuk ke dalam sel, tubuh kekurangan energi sehingga seseorang menjadi mudah lelah, lemas, dan kurang bertenaga meskipun telah beristirahat.
Baca juga: Rutinitas malam berperan penting dalam mengendalikan gula darah
6. Penglihatan kabur
Hiperglikemia juga dapat memengaruhi kesehatan mata.
Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan perubahan sementara pada lensa mata sehingga penglihatan menjadi kabur atau sulit fokus. Kondisi ini biasanya membaik setelah kadar gula darah kembali terkendali, tetapi apabila berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko gangguan penglihatan yang lebih serius.
7. Mulut terasa kering
Dehidrasi akibat sering buang air kecil dapat mengurangi produksi air liur sehingga mulut terasa kering.
Selain menimbulkan rasa tidak nyaman, kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan gigi dan mulut apabila berlangsung dalam waktu lama.
8. Lebih rentan mengalami infeksi
Kadar gula darah yang tinggi dapat menurunkan kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam melawan bakteri, virus, maupun jamur.
Selain itu, aliran darah yang kurang optimal membuat distribusi nutrisi ke jaringan tubuh menjadi terganggu sehingga proses penyembuhan infeksi berlangsung lebih lama.
Lingkungan dengan kadar gula tinggi juga mendukung pertumbuhan jamur, termasuk jamur Candida, sehingga penderita diabetes lebih rentan mengalami infeksi jamur.
9. Kesemutan dan mati rasa pada tangan atau kaki
Hiperglikemia yang berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan saraf atau neuropati diabetik.
Gejalanya berupa kesemutan, kebas, mati rasa, hingga sensasi seperti tertusuk jarum, terutama pada tangan dan kaki.
Kerusakan saraf biasanya berkembang secara perlahan sehingga sering kali baru disadari ketika kondisinya sudah cukup berat.
Mengenali ciri-ciri gula darah tinggi sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Jika mengalami satu atau beberapa gejala tersebut, terutama disertai riwayat diabetes atau faktor risiko seperti obesitas dan kurang aktivitas fisik, sebaiknya segera memeriksakan kadar gula darah ke fasilitas kesehatan.
Selain menjalani pemeriksaan secara berkala, menjaga pola makan bergizi seimbang, rutin berolahraga, mempertahankan berat badan ideal, serta mengikuti anjuran dokter bagi penderita diabetes merupakan langkah penting untuk membantu mengendalikan kadar gula darah dan menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Baca juga: Terlambat sarapan bisa berdampak buruk bagi kesehatan
Baca juga: Pakar UI: Kontrol glikemik & skrining kunci cegah komplikasi diabetes
Baca juga: Konsumsi buah ceri bermanfaat bagi pengaturan kadar gula darah
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.