Dalam kondisi seperti ini, mengenali ciri-ciri anak terkena abu vulkanik menjadi penting. Terlebih, anak dengan asma, alergi saluran napas, atau penyakit paru tertentu dapat mengalami kondisi yang lebih serius setelah terpapar.
Ringkasan
Paparan abu vulkanik paling sering menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan. Pada anak, keluhan dapat berupa bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Wahyuni Indawati, SpA, Subsp Respi (K), mengatakan gejala yang muncul umumnya berkaitan dengan iritasi saluran pernapasan.
"Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya," jelas dr Wahyuni dalam keterangan tertulis, dikutip Senin, 7 September 2026.
Dengan demikian, tidak semua anak yang mengalami batuk setelah terpapar abu otomatis mengalami kondisi berat. Namun, perubahan pola pernapasan menjadi hal yang perlu diperhatikan lebih serius.
Secara sederhana, beberapa gejala yang perlu diamati orang tua meliputi:
Bersin setelah terpapar abu vulkanik.
Batuk.
Pilek.
Sesak napas.
Napas menjadi lebih cepat.
Muncul tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas.
Saturasi oksigen berada di bawah 94 persen berdasarkan oksimeter jari.
Dua gejala terakhir menjadi penting karena dapat menunjukkan bahwa gangguan pernapasan anak membutuhkan penanganan medis segera.
Mengapa Abu Vulkanik Bisa Mengganggu Pernapasan Anak?
Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Ketika partikel tersebut berada di udara dan kemudian terhirup, saluran pernapasan dapat mengalami iritasi.
Itulah sebabnya anak yang berada di lingkungan penuh abu dapat mengalami bersin, batuk, atau pilek. Jika paparan cukup mengganggu sistem pernapasan, keluhan dapat berkembang menjadi sesak napas.
Risikonya juga tidak sama pada setiap anak. Anak yang sebelumnya sudah memiliki gangguan pada saluran pernapasan membutuhkan perhatian lebih karena paparan abu dapat memperburuk kondisi yang sudah ada.
IDAI secara khusus mengingatkan bahwa anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis dapat mengalami serangan akut atau eksaserbasi setelah terpapar abu vulkanik.
Artinya, orang tua sebaiknya tidak hanya melihat apakah anak mengalami batuk atau tidak. Yang juga perlu diperhatikan adalah perubahan kondisi setelah paparan, terutama cara anak bernapas.
Kapan Batuk Setelah Terpapar Abu Vulkanik Harus Dikhawatirkan?
Batuk atau bersin dapat menjadi tanda iritasi saluran napas. Namun, orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan ketika keluhan tersebut disertai perubahan pernapasan.
Misalnya, anak yang sebelumnya bernapas normal kemudian terlihat bernapas lebih cepat. Kondisi tersebut berbeda dengan sekadar batuk sesekali karena menunjukkan adanya perubahan pada pola pernapasan.
Hal serupa berlaku ketika terlihat bagian dinding dada anak tertarik ke dalam setiap kali menarik napas. Ini merupakan salah satu tanda yang disebut IDAI sebagai alasan untuk segera mencari pertolongan medis.
Dr Wahyuni mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan tanda-tanda gangguan pernapasan setelah anak terpapar abu vulkanik.
"Kami mengingatkan orang tua untuk tidak menganggap remeh gejala yang muncul. Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat," katanya.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa orang tua tidak perlu menunggu anak mengalami kondisi yang tampak sangat berat untuk mencari bantuan. Ketika tanda bahaya tersebut sudah terlihat, pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan.
Anak Mana yang Lebih Berisiko Terkena Dampak Abu Vulkanik?
Perhatian lebih diperlukan pada anak yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Kelompok yang disebut IDAI antara lain anak dengan riwayat asma, alergi, dan penyakit paru kronis. Bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal serta anak dengan penyakit jantung bawaan juga termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih.
Pada kelompok tersebut, orang tua sebaiknya lebih cepat merespons perubahan kondisi setelah paparan abu.
Misalnya, batuk yang muncul setelah berada di luar rumah perlu diamati perkembangannya. Jika anak memiliki riwayat asma, orang tua juga perlu memastikan obat-obatan rutin dan obat darurat yang memang telah diresepkan tersedia.
Hal terpenting adalah jangan menunggu kondisi anak memburuk hanya karena pada awalnya gejalanya terlihat ringan.
Baca Juga: Gunung Meletus dan Abu Vulkanik, Apakah Tanda Allah Murka? Ini Kata Al-Qur'an
Baca Juga: Serangan Abu Vulkanik Anak Krakatau, KDM Minta Sekolah di Bogor-Sukabumi Terapkan PJJ Mulai Besok
Tiga Tanda Anak Harus Segera Dibawa ke Fasilitas Kesehatan
Ada tiga indikator utama yang perlu diingat orang tua ketika anak terpapar abu vulkanik.
1. Napas anak menjadi lebih cepat
Perubahan kecepatan bernapas perlu diperhatikan, terutama jika terlihat jelas dibandingkan kondisi normal anak.
Jika anak tampak kesulitan bernapas atau napasnya semakin cepat setelah terpapar abu, jangan menganggapnya sebagai keluhan biasa.
2. Ada tarikan dinding dada ke dalam
Tarikan dinding dada ke dalam saat anak bernapas merupakan tanda yang lebih serius. Orang tua dapat memperhatikan apakah bagian dinding dada tampak tertarik ke dalam ketika anak menarik napas.
Jika tanda ini muncul, anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
3. Saturasi oksigen di bawah 94 persen
Orang tua yang memiliki oksimeter jari dapat memantau saturasi oksigen anak.
Berdasarkan imbauan IDAI dalam narasi ini, saturasi oksigen di bawah 94 persen menjadi salah satu tanda agar anak segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Angka tersebut tidak sebaiknya digunakan orang tua untuk melakukan diagnosis sendiri. Fungsinya lebih sebagai indikator kewaspadaan untuk menentukan kapan bantuan medis perlu dicari.
Cara Melindungi Anak dari Abu Vulkanik di Rumah
Pencegahan tetap menjadi langkah penting. Jika memungkinkan, anak sebaiknya dijauhkan dari wilayah yang terdampak abu vulkanik.
Jika kondisi tidak memungkinkan untuk mengungsi, anak dianjurkan tetap berada di dalam rumah, terutama ketika kualitas udara buruk atau ISPU berada di atas 100.
Rumah juga perlu dijaga agar abu tidak mudah masuk. Saat membersihkan abu yang sudah mengendap, orang tua sebaiknya menggunakan kain atau lap basah.
Menyapu abu dalam kondisi kering justru dapat membuat partikel kembali beterbangan dan meningkatkan kemungkinan terhirup.
Ada pula hal yang sering luput diperhatikan, yakni penggunaan perangkat di dalam rumah. IDAI menganjurkan mematikan perangkat yang menarik udara dari luar, termasuk AC, atau menggunakan mode sirkulasi ulang atau recirculation.
Kipas angin juga sebaiknya tidak digunakan karena aliran udara dapat membuat abu yang sudah mengendap di lantai atau furnitur kembali beterbangan.
Bagaimana Jika Anak Harus Keluar Rumah?
Dalam situasi tertentu, anak mungkin tetap harus keluar rumah. Jika demikian, perlindungan tambahan diperlukan.
Untuk anak berusia di atas 2 tahun, gunakan masker khusus anak dan pastikan pemasangannya benar. Anak juga disarankan menggunakan kacamata untuk mengurangi risiko iritasi pada mata akibat partikel abu.
Pakaian tertutup dapat membantu mengurangi kontak abu dengan kulit. Setelah kembali ke rumah, anak sebaiknya segera membersihkan diri dan mengganti pakaian.
Langkah ini penting karena paparan tidak hanya terjadi ketika anak menghirup udara berabu. Partikel juga dapat menempel pada pakaian, rambut, dan bagian tubuh lainnya.
Kesalahan Orang Tua yang Perlu Dihindari Saat Ada Abu Vulkanik
Salah satu kesalahan yang mudah terjadi adalah menganggap batuk setelah paparan sebagai gangguan biasa tanpa memantau perkembangannya.
Kesalahan lainnya adalah membersihkan abu dengan cara menyapu kering. Alih-alih menghilangkan abu, cara tersebut justru dapat membuat partikel yang telah mengendap kembali masuk ke udara.
Membiarkan anak bermain di luar ketika abu masih beterbangan juga meningkatkan paparan yang sebenarnya dapat dihindari.
Pada anak dengan asma atau alergi saluran napas, mengabaikan obat rutin yang telah diresepkan juga bukan pilihan yang tepat. Orang tua perlu memastikan kebutuhan pengobatan anak tetap tersedia sesuai arahan dokter.
Paparan asap rokok dan asap dapur juga sebaiknya dihindari karena dapat semakin mengganggu saluran pernapasan anak yang sudah terpapar abu.
Simulasi: Anak Batuk Setelah Bermain Saat Abu Vulkanik Turun
Bayangkan seorang anak bermain di luar rumah ketika abu vulkanik masih berada di udara. Setelah masuk rumah, anak mulai bersin dan batuk.
Langkah pertama bukan memaksa anak kembali beraktivitas, tetapi menghentikan paparan dan memastikan anak berada di lingkungan dengan udara yang lebih bersih.
Selanjutnya, orang tua dapat mengamati kondisi anak. Apakah batuk hanya sesekali atau semakin sering? Apakah anak masih bernapas seperti biasa? Apakah muncul sesak?
Jika kemudian napas anak menjadi lebih cepat, terlihat tarikan dinding dada ke dalam, atau hasil pengukuran oksimeter menunjukkan saturasi di bawah 94 persen, situasinya sudah berbeda. Pada kondisi tersebut, orang tua perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan.
Simulasi ini menunjukkan mengapa ciri-ciri anak terkena abu vulkanik tidak cukup hanya dilihat dari ada atau tidaknya batuk. Perubahan pola pernapasan justru menjadi salah satu hal yang paling penting untuk diamati.
Jangan Menunggu Anak Terlihat Sangat Sakit
Paparan abu vulkanik memang dapat menimbulkan keluhan ringan seperti bersin, batuk, dan pilek. Namun, risiko menjadi lebih serius ketika anak mulai menunjukkan tanda gangguan pernapasan.
Orang tua tidak harus menjadi tenaga medis untuk mengenali tanda bahaya tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan yang dapat terlihat, seperti napas lebih cepat, tarikan dinding dada ke dalam, serta hasil pengukuran saturasi oksigen di bawah 94 persen.
Semakin cepat tanda tersebut dikenali, semakin cepat pula orang tua dapat mencari pertolongan.
Dalam situasi erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung, kewaspadaan menjadi semakin penting, terutama bagi keluarga yang tinggal di wilayah yang terdampak abu vulkanik.
Baca Juga: Daftar Daerah yang Menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau
Baca Juga: Kenapa Pesawat Dilarang Terbang Menembus Abu Vulkanik? Ternyata Ini Bahayanya
FAQ
Apa ciri-ciri anak terkena abu vulkanik?
Ciri yang umum antara lain bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas akibat iritasi saluran pernapasan. Orang tua perlu lebih waspada jika anak mengalami napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen. Tanda-tanda tersebut perlu segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.
Apakah abu vulkanik bisa menyebabkan sesak napas pada anak?
Ya. Menurut IDAI, paparan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan yang salah satunya berupa sesak napas. Risikonya perlu mendapat perhatian lebih pada anak yang memiliki riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis karena paparan dapat memicu serangan akut atau memperburuk kondisi tersebut.
Apakah anak dengan asma lebih berisiko terkena dampak abu vulkanik?
Anak dengan asma termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih ketika terpapar abu vulkanik. Paparan tersebut dapat memicu serangan akut atau memperburuk kondisi pernapasan. Karena itu, orang tua perlu mengurangi paparan dan memastikan obat rutin serta obat darurat yang telah diresepkan tersedia.
Berapa saturasi oksigen anak yang perlu diwaspadai setelah terkena abu vulkanik?
Berdasarkan imbauan IDAI dalam narasi tersebut, saturasi oksigen di bawah 94 persen merupakan salah satu tanda yang perlu diwaspadai. Jika hasil pengukuran menunjukkan angka tersebut, terlebih disertai tanda gangguan pernapasan, anak sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan.
Kapan anak yang terkena abu vulkanik harus dibawa ke rumah sakit?
Anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan apabila menunjukkan tanda gangguan pernapasan, terutama napas yang menjadi lebih cepat, tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen. Orang tua sebaiknya tidak menunggu gejala menjadi semakin berat sebelum mencari pertolongan.
Apakah anak boleh keluar rumah saat ada abu vulkanik?
Jika memungkinkan, anak sebaiknya dijauhkan dari wilayah yang terdampak abu vulkanik. Ketika kualitas udara buruk, anak dianjurkan tetap berada di dalam rumah. Jika anak harus keluar, gunakan masker khusus anak untuk usia di atas 2 tahun, kacamata, dan pakaian tertutup untuk mengurangi paparan.
Bagaimana cara melindungi anak dari abu vulkanik di rumah?
Orang tua dapat menjaga rumah tetap tertutup, menjauhkan anak dari aktivitas pembersihan abu, serta menggunakan kain atau lap basah saat membersihkan permukaan. Hindari menyapu abu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel kembali beterbangan. AC yang menarik udara dari luar sebaiknya dimatikan atau diatur pada mode sirkulasi ulang, sedangkan kipas sebaiknya tidak digunakan.