AKURAT.CO Penutupan sejumlah akses utama oleh militer Israel di sekitar Ramallah dan Al-Bireh membuat ribuan warga Palestina terjebak selama berjam-jam. Sejumlah jalur penting menuju dan keluar dari dua kota di Tepi Barat yang diduduki mengalami pembatasan ketat dalam beberapa hari terakhir.

Antrean kendaraan panjang terlihat berulang kali di sejumlah checkpoint Israel di Ramallah, termasuk Atara, Ein Sinya, Jaba dan beberapa titik lainnya. Sebagian warga Palestina bahkan baru dapat tiba di rumah setelah lewat tengah malam.

Pemantauan Anadolu pada Senin menunjukkan sejumlah pintu masuk menuju Ramallah masih ditutup atau mengalami kemacetan parah. Kondisi tersebut mengganggu mobilitas antara Ramallah dengan kota, desa dan permukiman di sekitarnya.

Warga Terjebak Enam Jam di Checkpoint Atara

Malik Anas menjadi salah satu warga yang terdampak penutupan tersebut. Ia sedang dalam perjalanan dari Ramallah menuju rumahnya di Qalqilya ketika terjebak di checkpoint Atara, sebelah barat laut Ramallah.

Anas mengatakan kepada Anadolu bahwa dirinya harus menunggu sekitar enam jam sebelum pasukan Israel membuka kembali checkpoint tersebut setelah tengah malam.

Ribuan kendaraan Palestina disebut tertahan di lokasi. Sejumlah warga lainnya bahkan baru sampai di rumah sekitar pukul 02.00 setelah harus menunggu lama atau mencari jalur alternatif.

Situasi tersebut membuat perjalanan yang biasanya dapat ditempuh dalam waktu singkat berubah menjadi perjalanan berjam-jam.

Akses Pasien ke Rumah Sakit Ikut Terganggu

Penutupan checkpoint Israel di Tepi Barat juga berdampak terhadap akses layanan kesehatan.

Aktivis Palestina Aayed Ghafari mendokumentasikan seorang pasien yang harus dipindahkan dari kendaraan pribadi ke ambulans di Atara pada Senin. Pasien tersebut tidak dapat melewati checkpoint menggunakan kendaraan yang membawanya.

“Militer pendudukan dengan sengaja menutup pintu masuk Ramallah selama berhari-hari dan mencegah warga melintas menggunakan kendaraan mereka,” kata Ghafari kepada Anadolu.

Menurutnya, pembatasan tersebut telah mengganggu aktivitas sehari-hari dan pekerjaan warga Palestina.