CELIOS ungkap pertumbuhan ekonomi sulteng masih bergantung tambang nikel

Kamis, 1 Oktober 2026 06:27 WIB

Image Print

Direktur Studi Sosio-Bioekonomi CELIOS Fiorentina Refani  (ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi)

Palu (ANTARA) -

Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengungkapkan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Tengah, masih bergantung terhadap sektor pertambangan nikel.

“Tingginya pertumbuhan ekonomi tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan pembangunan, jika struktur ekonomi daerah semakin bergantung pada sektor tertentu,” kata Direktur Studi Sosio-Bioekonomi CELIOS Fiorentina Refani di Palu, Rabu.

Dia menjelaskan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah sebesar 8,32 persen pada triwulan I 2026, dinilai perlu diikuti dengan upaya mengurangi ketergantungan terhadap sektor ekstraktif, khususnya pertambangan dan industri pengolahan berbasis nikel.

Pada periode tersebut, industri pengolahan menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 15,09 persen. Dia mengatakan, perubahan struktur ekonomi Sulawesi Tengah dalam satu dekade terakhir menunjukkan semakin besarnya peran sektor pertambangan dan industri pengolahan.

Ia membandingkan struktur ekonomi Sulawesi Tengah pada 2014 dan 2024. Pada 2014, sektor pertanian disebut masih berkontribusi sekitar 34,4 persen terhadap struktur ekonomi daerah, sedangkan pertambangan dan industri pengolahan berada di kisaran 16 persen.

Sepuluh tahun kemudian, kontribusi pertanian disebut turun menjadi sekitar 15,8 persen. Sebaliknya, pertambangan dan industri pengolahan nikel berkembang hingga menguasai hampir 60 persen struktur ekonomi Sulawesi Tengah.

“Jadi, kita melihat ada pertanian yang turun drastis dan sektor ekstraktif naik secara drastis,” ungkapnya.

Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena ketergantungan terhadap sektor ekstraktif,membuat perekonomian daerah lebih mudah terpengaruh perubahan kebijakan dan harga komoditas global.

Fiorentina mencontohkan kebijakan pembatasan produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang berdampak terhadap aktivitas industri.

Selain kebijakan, harga nikel di pasar global turut mempengaruhi industri. Fiorentina menyebut harga nikel pada awal September 2026 berada di sekitar 16.600 dolar AS per ton, sedangkan harga yang dinilai diperlukan untuk menjaga margin produksi berada di kisaran 17.000 dolar AS per ton.

“Karena sudah masuk ke pasar global, ada volatilitas harga. Kebijakan global dan implikasi ekonomi global akhirnya membuat harga nikel sangat tidak stabil,” ujarnya.

Ia juga menyoroti perlambatan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah. Pertumbuhan yang sebelumnya mencapai 11,91 persen pada 2023 turun menjadi 9,89 persen pada 2024, kemudian 8,47 persen pada 2025 dan 8,32 persen pada triwulan I 2026.

Pewarta : Fauzi
Editor: Muhammad Zulfikar
COPYRIGHT © ANTARA 2026