asiawebawards.com
  • 2026-07-28 10:32:16 +0000 UTC

    Jul 28, 2026

    Cegah BPJS Kesehatan Gagal Bayar, Peneliti Kesehatan Ini Ajak Masyarakat Terapkan Hidup Sehat

    Artinya, terdapat defisit atau selisih berkisar Rp 2 triliun setiap bulannya yang jika dibiarkan tanpa penanganan bisa berisiko memicu gagal bayar pada 2027 mendatang.

    Baca Juga: Fungsi BPJS Kesehatan bagi Peserta JKN untuk Mendapatkan Perlindungan Kesehatan yang Optimal

    ​Menanggapi persoalan tersebut, seorang praktisi kesehatan dan penulis opini, Dosen dan juga Peneliti Kesehatan Masyarakat Syarif Rahman Hasibuan menegaskan bahwa akar masalah defisit ini sama sekali bukan disebabkan oleh masyarakat yang sedang jatuh sakit.

    ​"Perlu ditegaskan: defisit terjadi bukan salah orang yang sakit. Justru BPJS Kesehatan hadir untuk saudara-saudari peserta JKN yang sedang dirawat karena kanker, gagal ginjal, jantung atau penyakit berbiaya mahal lainnya” kata Syarif Rahman Hasibuan.

    ​Menurut Syarif, fokus utama yang perlu dipikirkan bersama saat ini adalah bagaimana menjaga keberlangsungan sistem asuransi sosial tersebut agar tetap mampu menopang warga yang membutuhkan.

    ​"Pertanyaannya bukan 'mengapa mereka sakit,' tapi 'apa yang bisa kita lakukan agar iuran yang kita bayar cukup untuk gotong royong menanggung mereka yang membutuhkan?'" tuturnya.

    ​Sebagai langkah nyata, Syarif membagikan pengalamannya dalam berkontribusi menjaga kestabilan finansial BPJS Kesehatan melalui dua langkah utama, yakni disiplin membayar iuran tepat waktu serta konsisten menerapkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).

    ​Langkah pertama, yakni pemenuhan kewajiban iuran bulanan tanpa jeda, dianggap sebagai fondasi terpenting agar asas gotong royong dalam BPJS Kesehatan dapat terus berjalan.

    ​"Tidak ada asuransi sosial yang bisa bertahan kalau pesertanya hanya mendaftar saat sakit, lalu berhenti membayar begitu sembuh. Kontribusi saya sederhana: iuran dibayar setiap bulan, tanpa jeda, tanpa menunggu sakit," jelasnya.

    ​Ia menambahkan, rasa kepedulian antar-sesama menjadi penggerak utama dalam menjaga keteraturan pembayaran iuran tersebut.

    ​"Bukan karena saya rajin ke rumah sakit. Justru karena saya hampir tidak pernah ke sana. Iuran yang saya bayar membantu menanggung peserta lain yang sedang membutuhkan, dan suatu hari nanti, kalau giliran saya yang sakit, sistem yang sama akan menanggung saya," tambah Syarif.

    ​"Prinsipnya gotong royong. Sistem ini hanya bekerja kalau semua ikut berkontribusi, bukan hanya saat butuh," tegasnya lagi.

    Baca Juga: Cara Memperbaiki Data BPJS Kesehatan yang Salah, Bisa Lewat Aplikasi hingga WhatsApp

    ​Langkah kedua yang tak kalah penting adalah menekan angka klaim kesehatan dari sisi pengeluaran melalui gaya hidup sehat. Syarif menilai, menjaga kesehatan diri secara tidak langsung membantu dana BPJS Kesehatan dialokasikan bagi pasien yang mengalami sakit berat.

    ​"Membayar iuran menjaga sisi pendapatan BPJS Kesehatan. GERMAS menjaga sisi pengeluaran. Kalau kita sebagai peserta lebih sehat, klaim turun, dana bertahan lebih lama, dan lebih banyak yang tersedia untuk mereka yang benar-benar membutuhkan perawatan," terangnya.

    ​Dalam kesehariannya sebagai pekerja kantoran, Syarif meluangkan waktu 20 menit sehari untuk berolahraga, seperti latihan beban dan kardio, atau memanfaatkan bodyweight exercise seperti push-up, squat, dan plank. Selain itu, ia menjaga pola makan dengan memperbanyak konsumsi air putih, sayur tauge, buah pepaya, serta asupan protein dari telur dan ikan, sembari membatasi konsumsi minuman manis.

    ​Ia juga menekankan pentingnya waktu istirahat yang cukup minimal 6 hingga 7 jam setiap malam serta pembatasan penggunaan ponsel menjelang tidur untuk menjaga kualitas tidur.

    Bagi Syarif, setiap perubahan kecil dalam gaya hidup sehari-hari memiliki dampak besar bagi keberlanjutan sistem kesehatan nasional.

    ​"Setiap pilihan kecil itu, air putih daripada minuman manis, 20 menit olahraga, tidur tepat waktu, adalah cara saya menjaga agar iuran yang saya bayar bisa sepenuhnya digunakan untuk gotong royong menanggung mereka yang sedang berjuang melawan penyakit berat," ungkapnya.

    ​"Kalau ribuan orang melakukan hal yang sama, bayangkan berapa triliun yang bisa dihemat dan berapa banyak lagi pasien yang bisa tertanggung dengan layak," sambung Syarif.

    ​Mengakhiri pautannya, Syarif mengingatkan bahwa menjaga keberlangsungan BPJS Kesehatan merupakan kewajiban kolektif seluruh lapisan masyarakat, bukan semata beban pemerintah.

    ​"BPJS Kesehatan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau direksi. Setiap peserta punya andil. Bayar iuran, jaga kesehatan. Dua hal itu tidak spektakuler, tapi kalau dilakukan jutaan orang secara konsisten, sistem ini bisa bertahan," pungkasnya.

    ​"Saya tidak sempurna. Tapi saya berusaha agar iuran saya benar-benar bisa menolong orang lain," tutupnya.

    2026-07-28 10:32:16 +0000 UTC