Cerita serupa datang dari pekerja swasta di Jakarta Selatan, Prilly (40 tahun) yang mengaku turut mengalami kerugian hingga sekitar Rp 70 juta setelah nilai investasinya merosot.

Bagi Prilly, kerugian itu bukan perkara kecil. Uang yang telah ia tanamkan di pasar modal sejak 2017 kini menjadi pengingat bahwa investasi saham tak selalu berujung manis. Di balik peluang meraup keuntungan, risiko kehilangan modal juga membayangi setiap keputusan.

Meski demikian, kerugian puluhan juta rupiah itu tak serta-merta membuatnya kapok. Prilly masih ingin berinvestasi di pasar saham, tetapi dengan pendekatan yang lebih berhati-hati.

“Jangan bilang main saham, invest saham,” ujarnya kepada Liputan6.com, seraya menegaskan bahwa aktivitas yang ia jalani bukan sekadar permainan untuk mencari keuntungan sesaat.

Selama bertahun-tahun berinvestasi, Prilly mengaku paling banyak mengalokasikan dananya ke saham-saham perbankan. Pilihan itu menjadi bagian dari perjalanan investasi sejak mulai mengenal pasar modal pada 2017.

Namun, situasi pasar yang bergejolak membuatnya harus mengevaluasi kembali langkah yang diambil. Setelah saham terdampak isu MSCI dan aktivitas perdagangan mengalami penghentian sementara (halt), Prilly memilih menahan diri untuk sementara waktu.

Ia memutuskan untuk tidak terburu-buru melakukan pembelian saham baru. Baginya, menunggu kondisi pasar lebih jelas menjadi pilihan yang lebih masuk akal ketimbang mengambil risiko tambahan di tengah ketidakpastian.

Investor ritel lain ikut membagikan ceritanya, Fajar (40 tahun) yang telah terjun ke pasar saham sejak 2011 bermodal awal Rp 10 juta. Kala itu, dia mulai membeli sejumlah saham, termasuk PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN).

Namun, perjalanan investasinya tidak selalu berjalan mulus. Sejak pembelian pertama saham BUMI, ia sudah merasakan kerugian. Pengalaman serupa juga terjadi pada saham FREN yang hingga kini masih tersisa dalam portofolionya, bahkan setelah perusahaan tersebut memasuki proses merger dengan XL Axiata yang kini menjadi bagian dari XLSmart. “FREN juga sampai merger sama XLSmart, saham jadi enggak sampai satu lot. Sampai sekarang masih pegang,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat nilai investasinya tertekan. Meski demikian, ia membedakan antara potensi kerugian dan kerugian yang benar-benar direalisasikan.

Saat ini, ia memperkirakan potensi kerugiannya mencapai puluhan juta rupiah. Namun, karena saham-saham tersebut masih dipegang, kerugian itu belum sepenuhnya direalisasikan melalui penjualan. “Investor ritel ya duit terbatas. Rugi real baru puluhan juta itu karena pakai duit sekuritas,” katanya.

Menurutnya, kesabaran menjadi bagian penting dalam menghadapi saham yang harganya turun. Namun, kesabaran itu tidak selalu mudah dijalankan, terutama ketika dana yang digunakan bukan sepenuhnya milik sendiri.

Meski mengalami kerugian, ia mengaku tidak kapok berinvestasi di pasar saham. Sebab masih melihat peluang dalam investasi jangka panjang, termasuk potensi memperoleh dividen dari perusahaan yang membagikannya. “Tidak ada kapok. Kalau untuk jangka panjang tidak, karena pasti dapat dividen,” ujarnya.