- Pasar keuangan Indonesia berakhir di zona merah, bursa saham dan rupiah melemah
- Wall Street kompak menguat ditopang IPO
- Perkembangan perang, kebijakan baru bursa hingga data ekonomi akan menjadi penggerak sentimen hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan berakhir di zona merah, rupiah dan saham melemah pada perdagangan kemarin, Senin (26/10/2026).
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi banyak tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,22% atau 66,16 poin ke level 5.373,09 pada perdagangan Senin (26/10/2026). Tekanan jual mendominasi perdagangan, dengan 520 saham berakhir di zona merah sementara 161 menguat.
IHSG sempat dibuka menguat di level 5.442,30 dan menyentuh posisi tertinggi harian 5.453,65. Namun, indeks berbalik arah dan merosot hingga menyentuh level terendah 5.349,75.
Indeks sempat bangkit ke kisaran 5.400, sebelum kembali tertekan dan bergerak di rentang 5.360-5.390 hingga penutupan.
Nilai transaksi mencapai Rp15 triliun dengan volume 37 miliar saham. Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 1,85 triliun.
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah belum mampu keluar dari tekanan pada perdagangan awal pekan. Mata uang Garuda mengakhiri perdagangan Senin (26/10/2026) dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,39% ke level Rp18.110/US$, dibandingkan penutupan Jumat (23/10/2026) di Rp18.040/US$.
Posisi tersebut menjadi penutupan terlemah rupiah sejak awal Juni 2026 atau dalam empat bulan terakhir.
Tekanan sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan, ketika rupiah melemah 0,06% ke posisi Rp18.050/US$. Pelemahan kemudian berlanjut hingga rupiah sempat menyentuh Rp18.130/US$.
Menjelang penutupan, tekanan sedikit mereda. Rupiah memangkas pelemahannya meski tetap berakhir 60 poin lebih lemah dibandingkan pembukaan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah tipis 0,01% ke posisi 101,802.
Di tengah kondisi tersebut, Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bank sentral tetap hadir di pasar untuk memantau pergerakan rupiah.
Destry menjelaskan, nilai tukar dipengaruhi dinamika permintaan dan penawaran valuta asing. BI terus mencermati perkembangan tersebut sekaligus menelusuri faktor yang mendasarinya.
"Kita tetap ada di pasar. Ini tergantung supply and demand. Hari ini mungkin lagi... Ya pokoknya tetap kita monitor, kita memantau pergerakannya," ujar Destry dalam acara Danantara TIIF 2026, Senin (26/10/2026).
Ketika ditanya mengenai kemungkinan perubahan strategi intervensi, Destry menyebut gejolak yang terjadi masih merupakan bagian dari dinamika pasar yang terus dipantau BI.
"Enggak, enggak, enggak. Ini volatilitas biasa, tapi kita akan terus monitor. Kita lihat root cause-nya juga," katanya.
Namun, Destry belum merinci penyebab utama tekanan terhadap rupiah pada perdagangan kemarin. Ia mengatakan masih akan mengecek perkembangan lebih lanjut sebelum memberikan penjelasan mengenai faktor pemicunya.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 7,454% pada perdagangan kemarin, dari 7,446% pada Jumat pekan lalu.