Kuningan (ANTARA) - Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menyebut luas kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Jawa Barat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diperkirakan mencapai 40 hektare.
Dian di Kuningan, Rabu, mengatakan pada siang hari sebagian titik api telah berhasil dipadamkan, sementara petugas masih melakukan pemantauan dan pendinginan untuk mencegah kebakaran kembali muncul.
“Berdasarkan laporan, sudah sekitar 40 hektare area yang terbakar. Namun sampai perkembangan siang hari, sudah mulai padam di beberapa titik,” katanya.
Ia menyampaikan hal tersebut setelah turun langsung meninjau lokasi karhutla, untuk melihat kondisi terkini sekaligus memastikan penanganan oleh tim gabungan berjalan maksimal.
Ia menuturkan kebakaran pertama kali terdeteksi di Blok Cileutik pada Senin (7/9), kemudian api merambat ke sejumlah titik di kawasan hutan TNGC.
Dian mengatakan kondisi di lapangan belum sepenuhnya aman, karena masih terdapat lokasi yang mengeluarkan asap dan diduga menyimpan bara api.
“Persoalan di hutan itu kan tidak bisa dilihat hanya dari padam asapnya, karena dimungkinkan, dan saya lihat tadi ada beberapa titik yang belum padam sepenuhnya,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi angin yang cukup kencang dalam beberapa hari terakhir menjadi tantangan tersendiri dalam pengendalian karhutla.
Bahkan, kata Dian, kobaran api berpotensi melewati sekat bakar yang telah dibuat petugas apabila hembusan angin membawa bara ke kawasan lain.
“Kita lihat ke arah atas, teman-teman juga mungkin ada yang membuat sekat bakar, tapi ini rawan karena angin besar di Kuningan hari-hari ini, jadi api itu menyeberang, melompat,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan Indra Bayu Permana mengatakan petugas menghadapi medan terjal dan berbatu, untuk mencapai sejumlah titik api.
Ia menyampaikan cuaca panas, perubahan arah angin, serta terbatasnya sumber air juga menjadi kendala dalam proses pemadaman.
Selain itu, ia mengatakan vegetasi yang mengering akibat kemarau panjang turut mempercepat penyebaran api sehingga pemadaman dilakukan secara manual dengan peralatan yang tersedia.
“Memang ada beberapa kesulitan, di antaranya akses jalan cukup terjal dan banyak batu-batu, angin yang berubah-ubah arah, cuaca panas, sulitnya sumber air,” katanya.
Adapun berdasarkan hasil pemantauan BPBD bersama tim gabungan, titik api tidak terlihat dan masih dilakukannya penyekatan dan mock up pendinginan hingga pukul 20.00 WIB, Rabu.
Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.