Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Koordinator Bidang Pangan menilai ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada ketersediaan pangan, tetapi juga mencakup keterjangkauan, keamanan, dan keberlanjutan.

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan, Widiastuti, mengatakan empat pilar tersebut menjadi fondasi yang harus terus diperkuat untuk memastikan ketahanan pangan Indonesia dalam jangka panjang.

"Empat pilar dari ketahanan pangan yang perlu kita tahu yaitu ketersediaan itu harus ada. Kita sudah memenuhi. Lalu yang kedua yaitu keterjangkauan. Namanya keterjangkauan berarti dari masyarakat bisa untuk menjangkaunya. Kita juga ada di posisi sudah ada keterjangkauan walaupun mungkin ada yang belum merata," ujar Widiastuti di Karawang, Jawa Barat, Kamis (24/9/2026).

Menurutnya, pilar ketiga adalah keamanan pangan yang saat ini juga terus diperkuat melalui berbagai proses. Sementara pilar terakhir adalah keberlanjutan yang harus menjadi bagian dari keseluruhan upaya pembangunan sektor pangan.

"Yang ketiga dari sisi keamanan. Ya, proses dari keamanan juga sudah berproses dan yang terakhir adalah yang keempat yaitu berkelanjutan. Semua tidak hanya di pertama dua dan tiga tetapi semua berproses berkelanjutan untuk ke depan menjadi Indonesia yang jaya, Indonesia yang menang, Indonesia yang maju melalui petani yang maju yaitu Bapak Ibu semua," katanya.

Widiastuti menuturkan Kemenko Pangan melalui Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian memiliki peran dalam mengawal, mengoordinasikan, menyinergikan, serta mengendalikan berbagai program peningkatan daya saing sektor pertanian.

Ruang lingkup tersebut mencakup tanaman pangan, produk pertanian, sarana dan prasarana, perkebunan, hingga peternakan.

Dalam pengembangan tanaman pangan dan produk pertanian, pemerintah juga mendorong pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga ketahanan pangan.

Widiastuti menyebut salah satu perkembangan teknologi yang telah diterapkan adalah penggunaan drone untuk mendukung kegiatan pertanian. Teknologi tersebut sebelumnya telah diperkenalkan oleh Syngenta.

Selain teknologi penyemprotan, ia juga menyoroti pengembangan produk perlindungan tanaman serta riset benih unggul yang dinilai penting untuk menghadapi tantangan perubahan iklim.

"Saat ini kita menangani untuk di sisi produk pertanian dan tanaman pangan, di mana perkembangan teknologinya kita udah lakukan, kemudian tahun lalu di-launching pemakaian drone-nya oleh Syngenta," jelasnya.

Ia juga mengapresiasi pengembangan benih unggul yang memiliki karakteristik sesuai dengan tantangan di lapangan. Salah satunya benih padi Ningrat yang menurutnya memiliki ketahanan terhadap kondisi air.

"Eh di mana di Ningrat ini ternyata mempunyai kespesifikan yaitu tahan air. Maksudnya tahan air itu berarti saya langsung bilang wah ini bisa jadi salah satu solusi di mana kondisi saat ini iklim yang cukup ekstrim el Nino, gozila ini di beberapa tempat sudah mengalami kekeringan," tuturnya.

Baca Juga: Hari Tani Nasional, Dari Energi Terbarukan, Tumbuh Pangan dan Kemandirian Petani

Baca Juga: Amran Sebut Impor Pangan Ilegal Bisa Rugikan 115 Juta Petani

Menurut Widiastuti, pengembangan benih dengan karakteristik tertentu menjadi semakin penting di tengah kondisi iklim yang ekstrem. Kekeringan akibat El Nino di sejumlah wilayah dapat memberikan tekanan terhadap produktivitas pertanian.

Di sisi lain, pemerintah tetap mendorong peningkatan produksi pertanian sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pangan dan mencapai target swasembada pangan secara berkelanjutan.

"Sedangkan kita sesuai dengan arahan bapak presiden tetap gencarkan untuk sisi pertanian, peningkatan produktivitas, menjaga kestabilan pangan, dan tercapainya target terus berkelanjutan swasembada pangan," pungkasnya.