CNN Indonesia
Rabu, 02 Sep 2026 19:42 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --
Membiasakan anak hidup bersih dan sehat tidak cukup hanya dengan mengajarkan cara mencuci tangan. Anak juga perlu memahami pentingnya bergerak aktif, menjaga kebersihan diri, memperhatikan kesehatan, hingga peduli terhadap lingkungan.
Kebiasaan tersebut penting dikenalkan sejak usia sekolah karena perilaku yang dilakukan secara berulang dapat terbawa hingga anak tumbuh dewasa.
Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, Niken Wastu Palupi, mengatakan pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat perlu dilakukan secara konsisten sejak dini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menanamkan kebiasaan hidup bersih dan sehat sejak dini sangat penting agar dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari hingga anak-anak tumbuh dewasa," ujar Niken dalam keterangannya saat hadir di kegiatan kick off edukasi Sekolah Sehat di SMPN 73 Jakarta.
Menurut Niken, kebiasaan sehat pada anak mencakup berbagai aspek. Selain menjaga kebersihan diri, anak perlu dibiasakan berolahraga dan melakukan aktivitas fisik, mencuci tangan menggunakan sabun, serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.
Kementerian Kesehatan juga berupaya memperkuat penerapan Trias UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) bersama puskesmas setempat. Edukasi kesehatan di lingkungan sekolah diharapkan dapat membantu peserta didik memahami cara menjaga kesehatan sekaligus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan sehat tak hanya soal kebersihan
Materi mengenai kesehatan anak di sekolah kini juga semakin luas. Tidak hanya mengajarkan kebersihan diri, edukasi dapat mencakup kesehatan reproduksi, aktivitas fisik, kepedulian terhadap lingkungan, hingga hubungan sosial yang sehat.
Pilihan Redaksi
- 7 Ciri Anak Kurang Kasih Sayang Orang Tua, Bisa Terbawa Sampai Dewasa
- Selalu Skip Red Flag, Ini 5 Ciri-Ciri Orang Hopeless Romantic
- Kenali 4 Jenis Attachment Style Beserta Cirinya pada Anak & Dewasa
Hal tersebut juga menjadi fokus Program Anak KAO (Kreatif, Aktif, Optimis) - Sekolah Sehat 2026 yang tahun ini memasuki satu dekade pelaksanaan. Program tersebut memberikan edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat, manajemen menstruasi, kesadaran menjaga lingkungan, serta pemilahan sampah kemasan.
Anak-anak juga diajak memahami pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang lain dan mencegah perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.
Direktur Sekolah Menengah Pertama Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikdasmen RI, Dr. Maulani Mega Hapsari, mengatakan pembiasaan hidup bersih dan sehat merupakan salah satu fondasi dalam membentuk generasi yang sehat dan cerdas.
"Generasi muda adalah generasi emas dan menjadi kunci utama dalam kemajuan bangsa sesuai dengan visi Indonesia Emas 2045," kata Maulani.
Menurut dia, anak-anak memiliki potensi besar untuk membawa perubahan positif apabila tumbuh dalam lingkungan yang mendukung mereka untuk aktif dan kreatif. Edukasi mengenai kebiasaan sehat juga sejalan dengan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang menjadi salah satu fokus Kemendikdasmen.
Maulani berharap praktik baik yang dilakukan di sekolah dapat terus dikembangkan dan diterapkan di satuan pendidikan lainnya sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak peserta didik.
Anak juga diajak peduli lingkungan
Membangun kebiasaan sehat pada anak juga tidak terlepas dari lingkungan tempat mereka belajar dan bermain. Karena itu, edukasi tahun ini turut mengajak siswa membiasakan pemilahan sampah kemasan bekas pakai. Penyediaan waste point di sekolah menjadi salah satu cara untuk mengenalkan kebiasaan tersebut secara langsung.
Sejumlah siswa perwakilan sekolah juga dipilih menjadi Duta Anak KAO. Mereka diajak mengikuti berbagai tantangan dan menjadi agen perubahan yang dapat mengajak teman-temannya menerapkan kebiasaan positif di lingkungan sekolah.
Program Anak KAO - Sekolah Sehat 2026 menyasar lebih dari 11.000 siswa di 50 satuan pendidikan tingkat SD dan SMP yang tersebar di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2016, program ini telah menjangkau lebih dari 52.000 peserta didik di 257 sekolah di berbagai wilayah Indonesia. Pada 2025, program tersebut juga diperluas ke wilayah Indonesia bagian timur, termasuk NTT dan Papua.
Presiden Direktur Kao Indonesia Shoichi Hasegawa mengatakan keterlibatan berbagai pihak dibutuhkan untuk membangun kebiasaan sehat sejak anak-anak.
"Selama satu dekade, komitmen Kao Indonesia melalui program Anak KAO terus diwujudkan secara berkelanjutan untuk bersama-sama membentuk generasi masa depan yang aktif, sehat, bersih, dan peduli terhadap lingkungan," ujar Shoichi.
Ia mengatakan edukasi mengenai kebiasaan hidup bersih dan sehat diharapkan tidak hanya diterapkan selama anak berada di sekolah, tetapi juga terbawa ke lingkungan rumah dan kehidupan sehari-hari.
"Kami berharap program Anak KAO dapat terus memberikan dampak positif yang berkelanjutan dan mendorong semakin banyak pihak untuk bersama-sama berkontribusi dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa yang lebih sehat, cerdas, dan peduli terhadap lingkungan," katanya.
(tis/tis)