Manokwari (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Papua Barat Daya mengalami inflasi tahunan sebesar 3,50 persen (year on year/yoy) pada Agustus 2026 atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yaitu 1,74 persen.

Kepala BPS Papua Barat Merry di Manokwari, Papua Barat, Rabu, mengatakan inflasi tahunan Papua Barat Daya dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan Papua Barat Daya, yakni 1,22 persen,” ujar Merry.

Selain itu, kata dia, kenaikan harga kelompok transportasi menempati urutan kedua yang memengaruhi inflasi tahunan dengan andil 0,86 persen, dan disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,48 persen.

Kelompok pengeluaran seperti penyedia makanan atau restoran, kelompok kesehatan, kelompok jasa keuangan, kelompok pendidikan, serta kelompok lainnya turut mendorong inflasi tahunan namun andilnya relatif lebih kecil.

“Semua kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks harga pada Agustus, tapi yang memiliki andil paling besar hanya tiga kelompok,” ucap Merry.

Dia menyebut ada sejumlah komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi tahunan di Papua Barat Daya, antara lain angkutan udara, minyak goreng, ikan tuna, bahan bakar rumah tangga, serta daging ayam ras.

Sebaliknya, terdapat beberapa komoditas yang juga memiliki andil dalam menahan laju inflasi tahunan pada periode Agustus 2026, terutama bawang merah, tomat, bawang putih, cabai rawit, dan bumbu masak.

“Inflasi tahunan Papua Barat Daya periode Agustus 2025 lebih rendah dibanding bulan Juli kemarin yang mencapai 4,29 persen (yoy),” katanya.

Ia melanjutkan, secara bulanan (month to month/m-to-m), Papua Barat Daya juga mengalami inflasi 0,10 persen namun berbanding terbalik jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang terjadi deflasi 0,10 persen.

Inflasi bulanan Papua Barat Daya dipengaruhi kenaikan indeks harga dari sebagian besar kelompok pengeluaran dengan andil terbesar disumbang oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau.

“Inflasi bulanan Papua Barat Daya pada Agustus 2026 lebih rendah kalau dibanding dengan Agustus 2025 yang mencapai 0,87 persen (m-to-m),” kata Merry.

Merry menjelaskan penghitungan inflasi Papua Barat Daya pada Agustus 2026 merupakan gabungan dari tiga kota indeks harga konsumen (IHK), yaitu Kota Sorong, Kabupaten Sorong, dan Kabupaten Sorong Selatan.

Kota Sorong mencatat inflasi tahunan 4,08 persen (yoy) dan inflasi bulanan 0,15 persen (m-to-m), sedangkan Kabupaten Sorong mengalami inflasi tahunan 2,35 persen (yoy) dan bulanan 0,04 persen (m-to-m).

Selanjutnya, Kabupaten Sorong Selatan mengalami inflasi tahunan 1,51 persen (yoy), sedangkan secara bulanan mengalami deflasi 0,34 persen (m-to-m).

Pewarta: Fransiskus Salu Weking
Editor : Evarianus Supar

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.