asiawebawards.com
  • 2026-08-03 23:43:07 +0000 UTC

    Aug 03, 2026

    BPS : NTP Gorontalo turun 5,99 persen akibat harga cabai melemah - ANTARA News Gorontalo

    Gorontalo (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juli 2026 turun 5,99 persen dibandingkan Juni.

    Penurunan dipicu melemahnya harga cabai rawit dan cabai merah di tingkat petani sehingga menekan pendapatan yang diterima dari hasil penjualan komoditas hortikultura.

    Kepala BPS Provinsi Gorontalo Agus Sudibyo di Gorontalo, Senin, mengatakan penurunan NTP terjadi karena indeks yang diterima petani mengalami penurunan lebih besar dibandingkan indeks yang dibayarkan petani.

    Menurut dia, harga cabai rawit dan cabai merah di tingkat petani turun sehingga nilai yang diterima petani dari hasil penjualan ikut berkurang dibandingkan bulan sebelumnya.

    Sementara itu, biaya yang dikeluarkan petani untuk konsumsi juga turun, tetapi penurunannya tidak sebesar penurunan harga jual hasil panen.

    "Harga jual produk turun 7,74 persen, sedangkan harga yang dibayar petani untuk konsumsi hanya turun 1,86 persen. Karena itu NTP turun 5,99 persen," katanya.

    BPS juga mencatat Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) pada Juli 2026 turun lebih dalam, yakni sebesar 6,71 persen dibandingkan Juni. Indikator tersebut dihitung dari perbandingan indeks yang diterima petani terhadap biaya produksi dan penambahan barang modal.

    Agus menjelaskan penurunan NTUP dipengaruhi faktor yang sama, yakni melemahnya harga cabai rawit dan cabai merah.

    Kondisi tersebut menyebabkan pendapatan usaha yang diterima petani lebih kecil dibandingkan bulan sebelumnya, meski bukan berarti petani secara langsung mengalami kerugian.

    Ia mengatakan subsektor hortikultura menjadi penyumbang penurunan terbesar dibandingkan empat subsektor pertanian lainnya, yang justru masih mencatatkan peningkatan secara bulanan.

    Meski mengalami penurunan, NTP Gorontalo masih berada pada angka 123,19 atau menjadi yang tertinggi ketiga di Pulau Sulawesi.

    Nilai tersebut masih berada di atas angka 100 yang menunjukkan petani secara umum masih memperoleh surplus dari kegiatan usahanya.

    Menurut Agus, tantangan yang dihadapi pemerintah saat ini adalah menjaga keseimbangan harga di tingkat produsen agar pendapatan petani tetap terpelihara, sekaligus menjaga inflasi di tingkat konsumen agar tetap terkendali.

    Pewarta: Faradila Alim
    Editor : Debby H. Mano

    COPYRIGHT © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    2026-08-03 23:43:07 +0000 UTC