Sorong (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kualitas udara di Kota Sorong, Papua Barat Daya, berada pada kategori tidak sehat berdasarkan hasil pemantauan konsentrasi partikulat halus atau PM2,5 dalam 24 jam terakhir.

Staf Bidang Data dan Informasi Stasiun Pemantauan Atmosfer Global (GAW) BMKG Sorong Harashta Yuqdha Anzar, di Sorong, Sabtu, mengatakan konsentrasi PM2,5 yang dirata-rata selama 24 jam mencapai 75,32 mikrogram per meter kubik.

"Kalau dirata-rata dalam 24 jam nilainya 75,32. Kemudian dikonversi ke ISPU, nilainya 121 yang masuk kategori tidak sehat," katanya.

Ia menjelaskan data tersebut merupakan hasil pemantauan sejak pukul 09.00 WIT hari sebelumnya hingga pukul 08.00 WIT pada hari pengukuran yang kemudian diolah pada pukul 09.00 WIT.

Konsentrasi PM2,5 tertinggi selama periode pemantauan mencapai 114,4 mikrogram per meter kubik, sedangkan terendah 52,2 mikrogram per meter kubik.

Menurut Harashta, salah satu faktor yang berkontribusi terhadap memburuknya kualitas udara di Sorong adalah tidak adanya hujan sehingga partikulat di udara lebih sulit berkurang secara alami.

"Selain faktor cuaca, hasil pemantauan juga menunjukkan adanya sejumlah titik panas atau hotspot di beberapa wilayah Papua," ujarnya.

Dia mengatakan, meskipun jumlah titik panas di Kota Sorong tidak terlalu banyak, asap dari wilayah lain dapat mempengaruhi kualitas udara akibat pergerakan massa udara dan arah angin.

Ia menyebut titik panas terpantau di sejumlah wilayah, antara lain Fakfak, Kaimana, Merauke, Mappi, dan Boven Digoel.

"Memang anginnya itu sedang berpola bergerak dari tenggara menuju barat laut. Jadi memang dari Merauke terbawa sampai ke Fakfak. Yang dari Kaimana juga terbawa sampai ke Sorong," katanya.

Dengan kondisi atmosfer dan pola angin yang masih berlangsung, kualitas udara di Kota Sorong berpotensi berada pada kondisi serupa dalam beberapa hari ke depan.

Harashta memperkirakan kondisi tersebut dapat berlangsung sekitar tiga hingga tujuh hari, namun perkembangannya tetap bergantung pada kondisi cuaca, hujan, arah angin, serta sumber partikulat di wilayah sekitar.

Dia mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat kualitas udara berada pada kategori tidak sehat, antara lain dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik berat, serta mengurangi paparan asap.

"Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan juga disarankan menggunakan masker yang sesuai, menghindari pembakaran di ruang terbuka, serta menutup pintu dan jendela ketika kondisi udara di luar berasap," katanya.

Dia juga meminta masyarakat untuk memantau perkembangan kualitas udara dan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG.

Pewarta: Yuvensius Lasa Banafanu
Editor : Evarianus Supar

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.