BMKG Kotim prediksi El Nino perpendek durasi musim hujan
Rabu, 14 Oktober 2026 16:53 WIB
Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo. ANTARA/Devita Maulina.
Sampit (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, memprediksi musim hujan pada periode mendatang berdurasi lebih pendek dari biasanya dikarenakan fenomena El Nino yang diprakirakan berlangsung hingga awal 2027.
"Kalau prediksi BMKG, El Nino itu sampai awal tahun 2027, sekitar Februari. Siklus musim hujan tetap berlangsung, tetapi durasinya akan lebih singkat,” kata Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo di Sampit, Rabu.
Ia menjelaskan, musim hujan tahun ini diperkirakan baru mulai pada November dan berlangsung hingga Mei atau Juni 2027. Pada kondisi normal musim hujan umumnya mulai berlangsung pada Oktober dan berlanjut hingga Juni tahun berikutnya.
Pengaruh El Nino membuat awal musim hujan diperkirakan mundur sehingga periode musim hujan menjadi lebih pendek dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Selain mempengaruhi durasi musim hujan, fenomena tersebut juga berpotensi mengurangi jumlah curah hujan yang diterima sejumlah wilayah di Kotim.
Disebutkan, pada periode November hingga Januari, curah hujan diprakirakan lebih rendah dibandingkan kondisi musim hujan normal. Meski begitu, periode tersebut tetap dikategorikan sebagai musim hujan karena hujan masih berpotensi terjadi.
"Masih disebut musim hujan, tetapi jumlahnya tidak sebanyak curah hujan yang kita terima dalam kondisi normal. Adapun, curah hujan normal rata-rata bisa di atas 200 sampai 300 milimeter per bulan, bahkan ada yang mencapai 400 hingga 500 milimeter," jelasnya.
Dia menambahkan, besaran penurunan curah hujan tersebut tidak akan sama di setiap wilayah. Kondisi geografis dan karakteristik masing-masing daerah, menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat potensi dampak El Nino terhadap ketersediaan air.
Berkurangnya curah hujan juga menjadi perhatian bagi masyarakat yang menggantungkan kebutuhan air pada hujan, terutama di wilayah yang belum memiliki sumber pasokan air memadai. Sektor pertanian tadah hujan dinilai berpotensi menghadapi tantangan karena sangat bergantung pada ketersediaan air untuk mendukung kegiatan pertanian.
"Musim hujan juga berkurang, pasokan air berpotensi ikut berkurang, terutama di daerah tadah hujan. Kami mengimbau masyarakat memanfaatkan air semaksimal mungkin dan lebih bijak dalam penggunaannya, khususnya untuk kebutuhan pertanian dan konsumsi," ucapnya.
Terkait potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada periode tersebut, Mulyono menilai peluang terjadinya kebakaran cenderung lebih kecil ketika wilayah telah memasuki musim hujan. Namun, kondisi cuaca dan ketersediaan air tetap perlu diperhatikan selama periode peralihan musim.
Di sisi lain, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir juga diminta tidak lengah kendati intensitas hujan diprakirakan menurun. Kewaspadaan tetap diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan banjir yang dapat terjadi di wilayah tertentu.
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.