BMKG: Kesiapsiagaan harus dibangun untuk mengurangi risiko gempa bumi

Senin, 28 September 2026 13:02 WIB

Image Print

Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) di Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. (ANTARA/HO-BMKG)

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan kapasitas kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah harus dibangun melalui serangkaian pelatihan untuk mengurangi risiko potensi bencana gempa bumi yang hingga saat ini belum dapat diprediksi secara pasti waktu dan lokasinya.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam keterangan di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa kali ini pelatihan kesiapsiagaan BMKG berupa Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) tersebut digelar untuk masyarakat Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Geografis Karanganyar yang berdekatan dengan sesar aktif daratan dan zona subduksi selatan Jawa mewajibkan adanya respons serta refleks keselamatan yang terlatih pada setiap warga desa setempat.

Bukan hanya warga yang mengikuti rangkaian kegiatan pelatihan tersebut tetapi juga melibatkan 53 peserta lainnya yang meliputi petugas BPBD, dinas terkait, satuan pendidikan, relawan, dan awak media di Karanganyar.

"Para peserta itu dibekali pengetahuan pengenalan earthquake early warning system (EEWS), simulasi guncangan, hingga latihan simulasi pengambilan keputusan atau table top exercise," kata dia.

Dia menjelaskan bahwa instruktur dari Stasiun Geofisika Kelas I Sleman dalam pelatihan tersebut berupaya mengubah informasi kebencanaan menjadi langkah nyata mitigasi di lapangan.

Kondisi belum ada teknologi di dunia yang dapat memprediksi kapan dan di mana titik gempa bumi secara presisi terjadi menuntut kesiapsiagaan semua unsur di zona rawan mendapat pelatihan sejak dini.

Adapun teknologi yang dimiliki pemerintah Indonesia saat ini berupa ratusan unit sensor seismik dari BMKG, berikut teknologi lain seperti buoy, dan tide guage - kabel fiber optik bawah laut milik sejumlah kementerian/lembaga pemerintah lainnya yang spesifikasinya mendeteksi dampak susulan gempa seperti Tsunami.

"Jadi program SLG ini sudah selaras dengan inisiatif global Early Warning, Early Action, dan Early Warning for All," cetusnya, seraya berharap para peserta dapat membagikan keterampilan dan pengetahuan mitigasi kebencanaan tersebut ke lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar sehingga terhindar dari bahaya gempa bumi.

Pewarta : M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.