Banjarbaru (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 1.299 titik panas di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Rabu, dengan seluruh wilayah didominasi kategori sangat mudah terbakar berdasarkan sistem peringatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor Banjarbaru BMKG Kalsel Adhitya Prakoso di Banjarbaru, Rabu, mengatakan data tersebut terdeteksi setelah pemantauan satelit pada pukul 07.00 Wita yang berlaku untuk kondisi hari ini.

“Total 1.299 titik panas tersebut terdeteksi ditemukan 12 kabupaten dan kota, sementara Banjarmasin tidak ditemukan titik panas,” ucapnya.

Adhitya merinci sebaran titik panas berdasarkan klasifikasi tingkat kepercayaan, yakni sebanyak 231 titik berada pada tingkat kategori rendah, 993 titik pada tingkat kategori sedang, dan 75 titik pada tingkat kategori tinggi berdasarkan hasil pemantauan satelit.

“Kabupaten Banjar menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 286 titik yang terdiri atas 41 titik tingkat kategori rendah, 220 titik tingkat kategori sedang, dan 25 titik tingkat kategori tinggi,” katanya.

Kabupaten Hulu Sungai Selatan di urutan kedua dengan 254 titik panas, meliputi 52 titik tingkat kategori rendah, 196 titik tingkat kategori rendah, dan enam titik tingkat kategori tinggi.

Kabupaten Barito Kuala berada di urutan ketiga dengan 179 titik panas, terdiri atas 34 titik tingkat rendah, 129 titik tingkat sedang, dan 16 titik tingkat tinggi.

Kabupaten Tapin mencatat 149 titik panas, sedangkan Hulu Sungai Utara sebanyak 120 titik, Tanah Laut 73 titik, Tanah Bumbu 63 titik, Kota Banjarbaru 59 titik, dan Hulu Sungai Tengah sebanyak 49 titik.

Kabupaten Kotabaru mencatat 34 titik panas yang terdiri atas dua titik tingkat rendah dan 32 titik tingkat sedang, sedangkan Balangan sebanyak 26 titik dan Tabalong tujuh titik.

Pada Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran Lahan/Hutan BMKG, indikator Fire Weather Index menunjukkan seluruh wilayah Kalimantan Selatan didominasi warna merah, yang menandakan potensi kebakaran berada pada kategori sangat tinggi atau sangat mudah terbakar.

“Kondisi tersebut dipengaruhi tingkat kekeringan ekstrem pada vegetasi seperti semak belukar, serasah kering, serta lapisan tanah gambut di sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan sehingga sangat rentan tersulut api dan memicu penyebaran kebakaran hutan dan lahan secara cepat,” ujar Adhitya.