Bengkulu (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Seluma dan Bengkulu Selatan hingga Kabupaten Kaur yang memiliki tingkat kemudahan terbakar pada musim kemarau.

"Perlu diwaspadai peluang yang menjadi mudah terbakar. Seperti yang saya tunjukkan di peta ada warna merah-merah di Kabupaten Kaur, Seluma, Bengkulu Selatan, yang merah-merah itu peluang 80-90 persen mudah terbakar," kata Kepala BMKG Bengkulu Luhur Tri Uji Prayitno di Bengkulu, Kamis.

Luhur mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama dalam melakukan aktivitas yang berkaitan dengan penggunaan api atau kegiatan pembakaran di daerah tersebut.

Dia mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan pembakaran di wilayah yang masuk dalam zona dengan tingkat kemudahan terbakar tinggi selama musim kemarau kali ini.

"Maka, di daerah itu kita perlu memberi tanda larangan," katanya.

Menurut Luhur, kewaspadaan diperlukan karena kondisi musim kemarau di Bengkulu masih berlangsung hingga saat ini dan awal musim hujan diperkirakan mengalami kemunduran sekitar tiga atau empat dasarian.

Luhur mengatakan berdasarkan data periode 1991-2010, musim hujan di Bengkulu secara normal mulai turun pada akhir September. Namun, fenomena El Nino yang masih kuat pada 2026, menyebabkan masa kemarau berlangsung lebih panjang, sehingga awal musim hujan ikut bergeser yang diperkirakan baru terjadi pada Oktober 2026.

Selain Seluma dan Bengkulu Selatan, Luhur menyebut sebaran titik panas di Bengkulu bisa terjadi di seluruh wilayah Provinsi Bengkulu yang dapat berubah dari waktu ke waktu sesuai kondisi kabupaten/kota pada periode musim kemarau. Oleh karena itu, pemantauan dan penanganan perlu dilakukan secara tepat, cepat dan berkelanjutan.

Luhur mengatakan titik panas yang terdeteksi melalui pemantauan satelit masih perlu diverifikasi tim gabungan pencegahan karhutla demi memastikan apakah benar kebakaran atau hanya sekedar titik panas.

"Bisa juga panas atap bangunan terdeteksi sebagai titik panas, oleh karena itu perlu diverifikasi lagi," ujarnya.

Pewarta: Boyke Ledy Watra
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.