REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perusahaan transportasi dan logistik membutuhkan pengelolaan armada yang lebih efisien untuk menekan biaya operasional sekaligus menjaga keselamatan dan keamanan kendaraan. Pemanfaatan telematika menjadi salah satu cara untuk mengolah data kendaraan, mulai dari lokasi, rute perjalanan, perilaku pengemudi hingga konsumsi bahan bakar.

Data tersebut dapat digunakan perusahaan untuk mengevaluasi kinerja armada, mengoptimalkan rute, mengendalikan biaya operasional, serta menyusun perencanaan bisnis berdasarkan kondisi di lapangan.

CEO PT GPSKU Karya Indonesia Mh. Arya mengatakan, penggunaan telematika turut mengubah pola pengelolaan armada di sejumlah perusahaan dari pendekatan reaktif menjadi pencegahan masalah.

"Perubahan paling mendasar yang kami lihat pada klien-klien kami adalah pergeseran budaya kerja, dari reaktif menjadi proaktif. Sebelumnya, masalah baru diketahui setelah terjadi. Sekarang, banyak masalah dapat dicegah sebelum berdampak besar terhadap operasional," kata Arya dalam siaran pers, Kamis (24/9/2026).

Dari sisi keselamatan, data telematika dapat digunakan untuk memantau perilaku berkendara, seperti kecepatan, pengereman mendadak, akselerasi, hingga kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Data tersebut dapat menjadi dasar evaluasi dan pembinaan pengemudi secara lebih terukur.

Sementara dari sisi keamanan, GPS tracker dapat memantau kendaraan secara real-time, menggunakan geofencing, serta memberikan peringatan ketika kendaraan bergerak di luar pola yang ditentukan. Pada perangkat tertentu, perusahaan juga dapat menggunakan fitur remote engine cut-off dengan otorisasi.

Penerapan telematika telah digunakan di sejumlah sektor. Perusahaan logistik memanfaatkannya untuk meningkatkan akurasi informasi pengiriman dan pengelolaan rute, sedangkan sektor pertambangan dan perkebunan dapat menggunakannya untuk memantau kendaraan dan alat berat di wilayah dengan konektivitas terbatas.

Pada kondisi konektivitas terbatas, sistem dapat menyimpan data sementara dan melakukan sinkronisasi ketika koneksi kembali tersedia. Teknologi tersebut memungkinkan data kendaraan tetap tercatat meski beroperasi di wilayah dengan jaringan yang tidak stabil.

Di industri farmasi dan makanan beku, GPS tracker dapat diintegrasikan dengan sensor suhu untuk memantau distribusi rantai dingin. Kombinasi data lokasi dan temperatur memungkinkan perusahaan memantau perjalanan sekaligus mendokumentasikan kondisi muatan selama distribusi.

GPSKU mencatat hasil evaluasi internal yang menunjukkan penurunan kasus kehilangan kendaraan pada sejumlah klien korporat. Data tersebut menjadi salah satu gambaran pemanfaatan telematika untuk aspek keamanan armada, meski hasilnya dapat berbeda sesuai kondisi dan sistem pengelolaan masing-masing perusahaan.

Head of Marketing GPSKU Ihsan mengatakan, pemanfaatan data kendaraan akan semakin berkaitan dengan pengelolaan armada dan sistem digital perusahaan.

"Ke depan, kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan data kendaraan akan menjadi salah satu bagian penting dalam pengelolaan armada yang lebih efisien, aman, dan terukur," kata Ihsan.

Kendaraan kini juga dapat terhubung dengan sistem perusahaan, dashboard internal, dan berbagai platform digital. Integrasi tersebut memungkinkan data operasional kendaraan digunakan sebagai salah satu dasar dalam pengambilan keputusan perusahaan.