Jakarta -

Tiga warga negara Selandia Baru menuai kecaman usai video mereka menari di depan Kuil Fushimi Inari Taisha, Kyoto, Jepang, beredar di media sosial. Mereka dinilai tidak menghormati kawasan kuil yang merupakan tempat ibadah umat Shinto.

Video yang beredar di media sosial itu memperlihatkan tiga orang melakukan pertunjukan poi di depan gerbang torii berwarna vermilion, gerbang tersebut merupakan salah satu akses menuju Fushimi Inari Taisha.

Melansir Stuff, Senin (14/9/2026) Poi merupakan seni pertunjukan tradisional masyarakat Maori. Pertunjukan tersebut menggunakan bola ringan yang diikat tali dan dimainkan dengan gerakan memutar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aksi tersebut mendapat sorotan di media sosial X karena dilakukan di kawasan yang dianggap sakral. Netizen menilai area di sekitar gerbang torii seharusnya digunakan untuk aktivitas keagamaan, bukan sebagai tempat pertunjukan.

"Bahkan sebelum melewati gerbang torii, tempat itu adalah tempat bagi para peziarah untuk berjalan melewatinya, bukan tempat pertunjukan," tulis netizen.

"Jangan jadikan kuil ini panggung pribadimu. Orang-orang seperti ini menunjukkan rasa tidak hormat dan jika kamu tidak bisa memahami budaya, jangan datang ke situs bersejarah," netizen itu menambahkan.

Setelah ditelusuri, diketahui kelompok itu dipimpin oleh pemimpin program Maori Media di Auckland University of Technology (AUT), Tangaroa Paul. Ia memiliki latar belakang di bidang kajian Maori dan gender masyarakat adat, Kapa Haka, seni pertunjukan, dan media.

Setelah mendapat kecaman, Paul beberapa kali menyampaikan permintaan maaf melalui platform X. Ia mengaku menikmati kunjungannya ke Jepang, tetapi menyadari telah melakukan kesalahan.

"Saya tahu kata-kata permintaan maaf saya mungkin tidak akan pernah cukup, tetapi tindakan mungkin. Saya akan mengakui ketidaktahuan dan kesalahan saya, dan akan memastikan saya tidak mengulanginya lagi," kata Paul.

Paul kemudian menegaskan bertanggung jawab penuh atas aksinya yang dinilai menyinggung budaya Jepang, masyarakat, dan tempat-tempat suci. Ia mengatakan telah memahami kesalahannya dan berusaha memperbaikinya.

"Sekali lagi, kami sangat menyesal telah menyebabkan luka, rasa sakit, atau kemarahan terhadap masyarakat Jepang, kebiasaan mengunjungi tempat-tempat suci seperti Fushimi Inari Taisha. Dan yang terpenting, orang-orang yang telah kami sakiti," ujar Paul.

AUT memastikan Paul telah mengakui kesalahannya dan meminta maaf atas video yang dibuat saat perjalanan pribadi.

Sebagai informasi, Fushimi Inari Taisha merupakan kuil Shinto yang berdiri sejak 711 Masehi. Kuil tersebut menjadi kuil utama dari sekitar 30.000 kuil Inari di Jepang dan dikenal sebagai tempat umat berdoa untuk panen, kemakmuran usaha, keselamatan keluarga, serta berbagai harapan lainnya.

Fushimi Inari Taisha memiliki aturan bagi pengunjung, termasuk larangan menghalangi jalur dan pembatasan pengambilan gambar di sejumlah area.

(upd/fem)