BI nilai Bali cocok jadi tuan rumah pusat finansial internasional - ANTARA News Bali
Denpasar (ANTARA) - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali Achris Sarwani meyakinkan bahwa Bali paling sesuai menjadi lokasi ekosistem Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).
“Tempatnya salah satu selain di Jakarta paling mudah saat ini disiapkan adalah di Bali, bukan hanya infrastruktur yang kami siap tapi budaya yang memang sudah leisure istilahnya berwisata, kalau ditambah bisnis jadi bleisure, enak kan” kata Achris di Denpasar, Jumat.
Ia mendorong agar setelah Undang-Undang PFII rampung, dapat segera diperjelas implementasinya, sehingga Bali menyiapkan infrastruktur fisiknya ketika terpilih.
“Jadi rasanya sudah tempat yang mudah untuk kita bisa mengimplementasikan dan itulah kelebihan Bali untuk kita tawarkan,” ucapnya.
Achris menjelaskan dalam pengembangan International Financial Centre (IFC), infrastruktur paling utama bukan bangunannya, namun manajemen dan ekosistemnya, hal yang sudah terbangun di Bali.
Ketika investor-investor dunia masuk ke Indonesia, ia meyakini lokasi pertama yang diinginkan adalah Bali.
Sehingga, untuk menentukan lokasi fisik PFII menurutnya dapat di Bali bagian saja termasuk di KEK Kura Kura Bali meski sebelumnya sempat dikabarkan tidak mungkin dibangun di kawasan ekonomi khusus.
“Sangat mungkin di KEK Kura Kura Bali sebagai salah satu yang kami dorong dari kesiapan fisiknya karena disini siap, tapi IFC ini bukan fisik banget melainkan infrastruktur keseluruhan, jadi akan beda dengan pabean,” tuturnya.
Apabila Bali dipilih, lanjut dia, investasi lebih diarahkan ke bagian utara, timur dan barat, agar tidak menumpuk di Bali bagian selatan.
Maka dari itu ia berharap PFII bukan hanya di portofolio pasar keuangan, namun turun ke sektor riil penanaman modal asing yang dibutuhkan Bali.
“Kita tahu Bali selatan sudah padat tapi investornya ingin ke sini terus, maka kami berharap investor PFII diajak ke daerah utara,” ujar Achris.
Ketika PFII dikembangkan di Bali maka infrastruktur yang dibutuhkan di Pulau Dewata namun biayanya besar, jadi bisa terealisasikan, karena investor-investor tersebut akan melihat langsung potensi Bali selama berada di sini.
“Misalnya investasi untuk Mass Rapid Transportation yang moderen, mungkin kereta, itu sangat dibutuhkan, kalau tidak kan kita mau keluar juga macet, secara hitung-hitungan bisnis seharusnya sangat memungkinkan investasi di perkeretaapian itu,” katanya.
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.