Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menaikkan insentif pengurangan biaya lindung nilai melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) hingga 45% untuk menarik investasi portofolio dan menjaga aliran modal asing ke Indonesia. Kebijakan ini mencakup investasi pada Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), saham, pinjaman luar negeri perbankan, serta penanaman modal asing.
Anggota Dewan Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan BI juga memberikan insentif swap dan DNDF sebesar 10% untuk transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) dengan tujuh negara mitra.
“Yang pertama itu adalah terkait dengan portfolio investment, mau SRBI, SBN, saham, kemudian ada pinjaman luar negeri oleh bank maupun penanaman modal asing, dan ini semuanya bisa dilakukan dengan swap maupun DNDF,” ujar Aida dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Aida menyebut tujuh negara mitra LCT tersebut meliputi Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, Korea Selatan, China, dan Uni Emirat Arab. BI memberikan insentif sebesar 10% untuk transaksi swap maupun DNDF dengan negara-negara tersebut.
Aida menjelaskan kebijakan operasi moneter valuta asing juga berkaitan dengan pengelolaan cadangan devisa. BI mencatat cadangan devisa Indonesia mencapai US$ 146,3 miliar pada bulan sebelumnya, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
“Jawabannya aman karena Bank Indonesia melakukan pengelolaan cadangan devisa. Tentunya yang pertama rulenya adalah kita jaga kecukupannya,” kata Aida.
Menurut Aida, BI menjaga kecukupan dan keberlanjutan cadangan devisa dengan mempertimbangkan kebutuhan pembayaran impor, utang luar negeri pemerintah, serta standar kecukupan internasional. BI juga memperhitungkan risiko pembalikan arus modal dalam pengelolaan cadangan devisa.
Aida menambahkan BI memberikan insentif lebih besar untuk transaksi dengan tenor lebih panjang agar investor mempertahankan penempatan dananya lebih lama. BI juga mengandalkan kondisi makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan yang terjaga untuk meningkatkan kepercayaan investor serta mendorong aliran modal masuk berkelanjutan.