asiawebawards.com
  • 2026-07-28 22:45:15 +0000 UTC

    Jul 28, 2026

    Beranggotakan 32 Negara, Jenderal NATO Akui Barat Kesulitan Mengimbangi Rusia |Republika Online

    Rudal Iskander, salah satu senjata andalan Rusia untuk membombardir Ukraina.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — NATO mengakui Barat menghadapi tantangan serius dalam perlombaan persenjataan modern. Aliansi pertahanan Atlantik Utara itu menilai sistem senjata dan industri pertahanan negara-negara Barat tidak lagi dirancang untuk menghadapi perang berintensitas tinggi seperti yang terjadi di Ukraina maupun ketegangan yang meluas di Timur Tengah.

    Peringatan tersebut disampaikan Supreme Allied Commander Transformation NATO Laksamana Pierre Vandier hanya beberapa hari setelah para pemimpin NATO menyepakati investasi pertahanan baru bernilai puluhan miliar dolar AS. Dalam wawancara dengan Fox News seusai KTT NATO di Ankara, Turki, beberapa waktu lalu, Vandier bahkan mengakui bahwa keunggulan produksi persenjataan kini tidak lagi berada di pihak Barat. "Hari ini, hitung-hitungan matematis tidak berpihak kepada Barat," kata Vandier.

    Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa NATO mulai melihat perang Rusia-Ukraina bukan sekadar konflik regional, melainkan laboratorium yang mengubah cara perang modern dijalankan. Ribuan drone murah, rudal jelajah, hingga rudal balistik yang diluncurkan Rusia secara berulang telah menguji batas kemampuan sistem pertahanan udara Barat yang selama ini dibangun untuk menghadapi jumlah ancaman yang jauh lebih sedikit.

    Dalam KTT tersebut, NATO berkomitmen membeli sekitar 900 rudal Patriot dan mengalokasikan lebih dari 40 miliar dolar AS selama lima tahun untuk memperkuat kemampuan menghadapi serangan drone. Namun bagi Vandier, langkah itu belum cukup.

    Menurut dia, persoalan terbesar justru terletak pada model industri pertahanan Barat yang tidak mampu memproduksi senjata dalam jumlah besar dengan biaya yang efisien.

    "Tidak mungkin memproduksi 50.000 rudal Patriot dalam setahun. Kita tidak memiliki rantai pasok yang mendukungnya, dan secara ekonomi itu tidak masuk akal," ujarnya.

    Karena itu, Vandier menilai NATO harus meninggalkan paradigma lama yang mengandalkan rudal pencegat berharga jutaan dolar untuk menghancurkan drone yang nilainya hanya puluhan ribu dolar.

    Ia mengusulkan pendekatan pertahanan berlapis. Drone, amunisi berkeliaran (loitering munition), dan sasaran murah lainnya harus dihadapi menggunakan senjata berbiaya rendah yang dapat diproduksi secara massal. Sementara rudal Patriot dan sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) tetap difokuskan untuk menghadapi ancaman strategis seperti rudal balistik.

    "Anda memerlukan senjata murah yang dapat diproduksi massal untuk menghancurkan senjata murah yang datang dalam gelombang besar. Senjata canggih tetap diperlukan, tetapi hanya untuk menghadapi ancaman yang benar-benar kompleks seperti rudal balistik," kata Vandier.

    2026-07-28 22:45:15 +0000 UTC