Eka Aprillia Putri-Mahasiswa Manajemen Unpam
Eduaksi | 2026-08-31 12:49:09
"Suatu hari nanti, aku akan membangun bisnisku sendiri." Bagi kebanyakan orang, kalimat ini mungkin sekadar angan-angan. Namun bagi Park Sae-ro-yi, karakter utama dalam drama Korea Itaewon Class, kalimat tersebut adalah cetak biru hidup yang dieksekusi tanpa ragu. Drama ini tidak hanya menyuguhkan kisah balas dendam yang emosional, tetapi juga pelajaran bisnis dan kepemimpinan yang amat relevan bagi generasi muda.
Di era yang serba cepat ini, banyak dari kita terjebak dalam budaya instant gratification—keinginan melihat hasil secara cepat. Melalui perjalanan Sae-ro-yi membangun kedai DanBam hingga menjadi konglomerat IC Group, Itaewon Class meruntuhkan mitos kesuksesan instan. Mimpi besar selalu membutuhkan modal berupa waktu yang panjang dan strategi yang matang.
Waktu Bukan Musuh, Tapi Investasi
Pelajaran paling mencolok dari Sae-ro-yi adalah cara pandangnya terhadap waktu. Dikeluarkan dari sekolah, kehilangan ayah, hingga dipenjara tidak membuatnya menyerah. Di balik jeruji besi, ia menyusun rencana jangka panjang 7 hingga 15 tahun untuk menumbangkan Jangga Group, raksasa kuliner yang menjadi musuhnya.
Selepas dari penjara, Sae-ro-yi bekerja keras menjadi pelaut dan pekerja kasar selama tujuh tahun demi mengumpulkan modal awal. Di saat banyak orang ingin kaya mendadak lewat spekulasi instan, kesabaran Sae-ro-yi menjadi pembanding yang nyata. Waktu yang ia lalui membentuk ketahanan mental, kedewasaan, dan pemahaman mendalam tentang industri yang ia masuki. Pondasi yang dirancang bertahun-tahun akan jauh lebih tahan menahan guncangan krisis.
Strategi Eksekusi dan Adaptasi
Mimpi tanpa strategi hanyalah ilusi. Sae-ro-yi menyadari bahwa idealisme saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan bisnis. Keberhasilannya ditopang oleh beberapa langkah strategis:
1. Manajemen SDM Berbasis Empati: Ia merangkul orang-orang yang sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Kepemimpinannya yang humanis membangun loyalitas tinggi, sehingga timnya berjuang demi visi bersama, bukan sekadar gaji.
2. Keberanian Beradaptasi: Lewat Jo Yi-seo, manajer muda yang paham tren digital, DanBam merombak tata letak, menyempurnakan rasa, dan memaksimalkan digital marketing. Sae-ro-yi mau menurunkan ego untuk mendengarkan kritik dan memberi ruang inovasi.
3. Pengelolaan Modal yang Terukur: Ia mempelajari pergerakan saham dan memanfaatkan dana asuransi ayahnya untuk diinvestasikan pada momentum yang tepat, memberikan ketahanan finansial saat menghadapi serangan kompetitor.
Menjaga Integritas di Tengah Persaingan
Itaewon Class juga menegaskan bahwa kesuksesan sejati tidak harus mengorbankan integritas. Berbeda dengan lawannya yang menggunakan cara-cara manipulatif, Sae-ro-yi membuktikan bahwa bisnis dapat tumbuh besar dengan tetap berpegang pada kejujuran dan kemanusiaan. Menjaga nilai memang terasa lebih lambat pada awalnya, tetapi itulah yang membentuk kepercayaan konsumen jangka panjang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.