Bagaimana warga Gaza mencari nafkah lewat internet - BBC News Indonesia
Bekerja dari tenda pengungsian – Bagaimana warga Gaza mencari nafkah lewat internet

- Penulis, Yolande Knell
- Peranan, Crossing Continents, BBC Radio 4
- Melaporkan dari, Jerusalem
Telah diterbitkan 7 Agustus 2026, 11:52 WIB
Waktu membaca: 7 menit
Di tengah kehancuran akibat perang dan tingkat pengangguran tinggi, semakin banyak warga Gaza beralih ke ekonomi digital untuk bertahan hidup.
Bagi sebagian dari mereka, pekerjaan daring untuk klien di luar negeri menjadi salah satu sedikit peluang yang masih tersedia untuk memperoleh penghasilan.
"Saya seperti terpuruk, tenggelam dalam ketidakpastian," kata Walaa Volidis, seorang insinyur perangkat lunak asal Palestina.
"Namun jauh di lubuk hati, saya membuat keputusan: ini tidak akan menjadi akhir, seberat apa pun situasinya. Saya akan terus memperjuangkan impian saya."
Dengan mengenakan headset dan menatap layar laptopnya, Walaa mengikuti panggilan video dengan mentornya di Silicon Valley, California, untuk berdiskusi tentang kecerdasan buatan (AI). Perempuan berusia 24 tahun itu bertekad untuk terus memperbarui keterampilannya.
Namun, menjaga kemampuan profesionalnya tetap relevan hanyalah sebagian kecil dari tantangan yang ia hadapi setiap hari. Walaa kini tinggal di sebuah tenda di Gaza tengah sambil menanggung kebutuhan kedua orang tuanya yang mengungsi serta empat adiknya.
"Ketika perang dimulai, saya kehilangan segalanya: pekerjaan, universitas, bahkan beberapa anggota keluarga saya. Saudara-saudara perempuan saya juga terluka," ujar Walaa dari sebuah ruang kerja bersama di Deir al-Balah.
Baca juga:
- Hamas sepakat melucuti senjata – Akankah kesepakatan ini bertahan?
- Trump dan Netanyahu menyepakati rencana perdamaian di Gaza – Apa sikap Indonesia?
Ia mengaku kondisi kesehatan mentalnya sempat "hancur total", tetapi di tengah situasi itu ia memprioritaskan upayanya mencari pekerjaan.
Walaa merupakan satu dari ribuan warga Gaza yang kini berusaha membangun karier di sektor ekonomi digital.
"Ini seperti memberi saya dorongan untuk terus bergerak," katanya.
"Setiap hari saya memiliki tujuan yang jelas: pergi bekerja dan menyelesaikan tugas-tugas saya. Jika Anda hanya berhenti dan meratapi keadaan, Anda tidak akan bisa melakukan apa pun."

Di tengah hamparan puing-puing Gaza, sebagian besar dari dua juta penduduk wilayah itu kini bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.
Kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang layak pun sangat terbatas.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut tingkat pengangguran di Gaza telah melampaui 80%, meningkat tajam dibanding sekitar 22% sebelum perang.
"Kami kini menyebutnya semacam penyambung hidup digital," kata Nicole Hark dari organisasi kemanusiaan Amerika Serikat, Mercy Corps.
"Gagasannya sederhana: jika Anda memiliki laptop dan koneksi internet yang berfungsi, Anda masih bisa bekerja dan memperoleh penghasilan.
"Hal ini sangat penting untuk membantu orang kembali bekerja. Mereka tidak ingin terus bergantung pada bantuan kemanusiaan."
Sebelum perang terbaru yang menghancurkan Gaza meletus, wilayah itu sebenarnya memiliki sektor teknologi yang sedang berkembang pesat.
Konflik tersebut dipicu oleh serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023.
Selama bertahun-tahun, Israel dan Mesir memberlakukan blokade terhadap wilayah yang dikuasai Hamas itu dengan alasan keamanan.
Dalam kondisi pembatasan perbatasan yang ketat, pekerjaan jarak jauh seperti pemrograman, desain, dan pengembangan perangkat lunak menjadi jalan bagi banyak lulusan muda Gaza untuk menembus keterisolasian mereka.
Gaza Sky Geeks didirikan pada 2012 oleh Google dan Mercy Corps. Awalnya, organisasi tersebut bertujuan mendorong lahirnya perusahaan rintisan teknologi.
Namun, tiga pusat kegiatannya yang ramai juga menyelenggarakan pelatihan pemrograman dan memberikan pendampingan bagi warga Gaza yang ingin mengakses pasar internasional. Dua dari pusat tersebut hancur selama perang.
Kini Mercy Corps mendukung sejumlah ruang kerja bersama (co-working space) baru yang bermunculan di berbagai wilayah Gaza.
Tempat-tempat itu mengandalkan generator dan panel surya untuk menyediakan koneksi internet yang lebih baik serta pasokan listrik yang lebih stabil.
Dukungan ini menjadi sangat penting karena sistem kelistrikan Gaza nyaris lumpuh total, sementara sekitar 75% jaringan telekomunikasi di wilayah tersebut dilaporkan rusak atau hancur akibat perang.

"Saya memulai semuanya dari awal, benar-benar dari nol, untuk membangun karier baru," kata Tarik Zaeem dari sebuah ruang kerja bersama di Kota Gaza.
Sebelum perang, pria berusia 44 tahun itu menjabat sebagai chief technology officer di sebuah perusahaan lokal. Kini, ia bekerja sebagai pemrogram lepas.
"Saat bekerja di depan laptop, saya melupakan segalanya. Saya melupakan apa yang telah terjadi," ujar Tarik.
Belakangan, ia mengembangkan aplikasi pemesanan untuk sebuah tempat pangkas rambut serta aplikasi parkir valet untuk seorang klien di Arab Saudi.
Sebagian besar penghasilan Tarik digunakan untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya yang kini tinggal di negara tetangga, Mesir. Pada awal perang, ia menggunakan seluruh tabungannya untuk membantu mereka keluar dari Gaza.
Namun, menerima bayaran tetap menjadi tantangan tersendiri. Hanya sedikit cabang bank yang kembali beroperasi di Gaza, sementara uang tunai sangat langka.
Warga Palestina juga menghadapi berbagai pembatasan dalam sistem perbankan internasional, dan penduduk Gaza tidak dapat mendaftar di sebagian besar platform pembayaran digital.
Sebagian orang dapat menerima uang melalui kerabat yang tinggal di luar negeri. Namun, yang lain bergantung pada perantara di Gaza yang mengenakan biaya tinggi untuk mencairkan transfer elektronik menjadi uang tunai.
Tarik mengatakan kondisi itu kerap membuatnya hanya menerima sekitar setengah dari nilai pembayaran yang semestinya ia peroleh.
"Jumlahnya tidak cukup untuk hidup layak," katanya. "Hanya cukup untuk kebutuhan dasar."

Meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat tahun lalu, serta kesepakatan terbaru antara Board of Peace dan Hamas untuk mendorong perdamaian, masih berlaku, serangan Israel di Gaza terus terjadi hampir setiap hari.
Israel mengatakan serangan-serangan itu ditujukan kepada kelompok-kelompok bersenjata Palestina.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, sedikitnya 1.250 orang, termasuk 265 anak-anak, telah tewas sejak gencatan senjata pada Oktober lalu. Data kementerian tersebut dinilai dapat diandalkan oleh PBB.
Tarik mengenang sebuah serangan udara yang terjadi di luar ruang kerja bersama tempatnya bekerja di Kota Gaza pada Juni lalu.
Dalam insiden itu, seorang mahasiswi Palestina yang sedang mengikuti ujian secara daring tewas di jalan. Israel menyatakan target serangan tersebut adalah seorang anggota Hamas dan bahwa pihaknya telah berupaya menghindari jatuhnya korban sipil.
Di tengah risiko yang terus mengintai, pekerja teknologi lain di Gaza mengatakan ia merasa perlu meyakinkan calon klien bahwa timnya tetap mampu menyelesaikan proyek pembuatan aplikasi seluler, situs, dan materi periklanan.
"Jika kami mendapatkan proyek teknologi informasi yang membutuhkan waktu tiga hingga empat bulan, kami biasanya mengatakan kepada klien: 'Harap diketahui bahwa seluruh pekerjaan akan dilakukan secara online. Jika kami terbunuh, pekerjaan Anda tetap akan selesai dan diserahkan kepada Anda'," kata Mahran Bayed.

Mahran tinggal di sebuah tenda bersama istri dan tiga anaknya yang masih kecil, tidak jauh dari rumah mereka yang hancur di dekat reruntuhan Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza.
Kompleks rumah sakit tersebut berulang kali menjadi sasaran serangan Israel selama perang.
Israel menuduh Hamas menggunakan fasilitas itu sebagai pusat komando dan kendali, tuduhan yang dibantah oleh kelompok tersebut.
"Saya kehilangan semua peralatan saya, kehilangan rumah, kehilangan kantor," kenang Mahran.
"Saat itu saya merasa seolah ini adalah akhir dari segalanya di Gaza."
Kini, Mahran menemukan pelarian sekaligus tujuan baru melalui pekerjaan lepas membuat aplikasi seluler, situs web, dan materi iklan.
"Dari Gaza, saya bisa berkolaborasi dengan tim di berbagai belahan dunia dan bekerja bersama orang-orang yang belum pernah saya temui sebelumnya," katanya.
"Itulah salah satu hal yang paling saya sukai dari teknologi."
Namun, Mahran masih menghadapi kendala tambahan. Layar laptopnya rusak akibat serangan Israel sehingga ia harus membawa monitor eksternal ke mana pun ia bekerja.
Bengkel-bengkel perbaikan di Gaza berusaha semaksimal mungkin memperbaiki komputer dengan memanfaatkan suku cadang dari perangkat lain yang juga rusak. Namun, kemampuan mereka tentu ada batasnya.
Otoritas pertahanan Israel, Cogat, yang mengendalikan perlintasan perbatasan Gaza, mengategorikan komputer dan komponen komputer sebagai barang dengan "penggunaan ganda", yakni barang yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan sipil maupun militer. Karena itu, impor barang-barang tersebut dilarang masuk ke Gaza.

Meski menghadapi berbagai kesulitan, banyak pekerja teknologi di Gaza menyadari bahwa mereka masih relatif lebih beruntung dibanding banyak warga lainnya.
Kembali di Deir al-Balah, Walaa mendapat bantuan dari TAP, sebuah perusahaan rintisan berdampak sosial Palestina-Belanda, yang membantunya terhubung dengan mentor, pelatih karier, dan calon pemberi kerja.
Baru-baru ini, ia berhasil memperoleh pekerjaan penuh waktu di sebuah perusahaan yang berbasis di Dubai.
Kini, Walaa berfokus untuk memperbaiki kehidupan sehari-hari adik-adiknya serta mencari cara agar salah satu adiknya yang berusia hampir 13 tahun dapat dievakuasi keluar dari Gaza untuk mendapatkan perawatan medis.
Adiknya mengalami limfedema, kondisi kronis yang menyebabkan pembengkakan parah pada kaki, setelah mengalami cedera akibat trauma.
"Harapan pertama saya adalah membantu keluarga saya memiliki kehidupan yang lebih baik dan membantu adik saya keluar dari Gaza agar bisa mendapatkan pengobatan," kata Walaa.
"Selain itu, saya juga berusaha untuk diri saya sendiri, mencari beasiswa agar bisa melanjutkan perjalanan dan studi di luar Gaza."
Di saat pemulihan Gaza secara keseluruhan masih berjalan di tempat, para pekerja teknologi di wilayah itu menghadirkan secercah gambaran tentang masa depan yang lebih cerah dan mungkin masih bisa diwujudkan.
Laporan ini turut dibantu oleh Malak Hassouneh dan John Murphy.