Daftar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia - Tren belanja otomatis berbasis kecerdasan artificial (agentic shopping) yang digadang-gadang bakal merevolusi cara berbelanja online justru memicu alarm bahaya dari sektor perbankan global.
Enam bank raksasa dunia, termasuk Bank of America dan Capital One, kompak melayangkan peringatan keras. Dalam laporan terbarunya yang bertajuk "Building Trust in Agentic Commerce", mereka menyebut tren belanja via agen AI ini menyimpan segudang celah risiko yang mengkhawatirkan.
Mulai dari transparansi, keselamatan, privasi data, kebebasan memilih, hingga interoperabilitas, risiko tersebut dinilai bakal meroket seiring dengan "makin besarnya otonomi yang diberikan kepada agen AI," dikutip dari Gizmodo, Rabu (23/9/2026).
Antara Janji Kemudahan dan Ancaman Penipuan
Di atas kertas, para pengembang AI, peritel, hingga raksasa pembayaran berlomba-lomba meluncurkan chatbot perdagangan berbasis agen (agentic commerce). Teknologi ini menjanjikan otomatisasi total, yakni agen AI bisa bertindak atas nama pengguna untuk mencari barang, membandingkan harga, hingga langsung melakukan pembayaran.
Namun, adopsi di tingkat konsumen masih jalan di tempat. Banyak orang masih merasa ciut nyali membiarkan agen AI "berkeliaran bebas" di internet dengan akses penuh ke rekening atau kartu kredit mereka.
"Konsumen tidak yakin apakah agen AI akan benar-benar bertindak demi kepentingan mereka," tulis laporan bank-bank global tersebut.
"Mereka khawatir agen AI salah membeli barang, menghabiskan terlalu banyak uang-atau lebih buruk lagi, kehilangan uang mereka akibat penipuan (scams and fraud)."
Para pakar pun bersikap skeptis. Ron Johnson, mantan eksekutif Apple di balik pendirian toko fisik Apple Store, menilai bahwa meskipun AI bakal membuat pengalaman belanja online lebih pintar, teknologi itu tidak akan pernah bisa mengubah esensi cara manusia berbelanja secara fisik.
Borok AI Terbongkar, Komisi Terselubung hingga Peretasan
Bukan tanpa alasan bank-bank tersebut cemas. Laporan tersebut membeberkan sejumlah skenario buruk di balik layar perdagangan berbasis agen:
-
Konflik Kepentingan: Agen AI berpotensi memprioritaskan produk atau metode pembayaran tertentu bukan karena kualitasnya, melainkan demi memburu insentif seperti komisi yang lebih tinggi.
-
Rawan Kejahatan Siber: Potensi tingkat penipuan, kecurangan, dan sengketa transaksi diprediksi melonjak tajam. Kebocoran data sekecil apa pun akan langsung membahayakan aset sensitif konsumen dan pedagang.
Bukti nyata baru saja terjadi pada asisten AI milik Meta, Muse. Belum lama ini, Meta harus jungkir balik memperbaiki kerentanan zero-day pada Muse-yang fitur utamanya adalah belanja otomatis-setelah ditemukan celah yang memungkinkan peretas membajak asisten AI dan menyalahgunakan izin akses pengguna.
Ironisnya, insiden itu terjadi hanya berselang sehari setelah Amazon mengecam dan memblokir Muse dari situs e-commerce-nya. Alasannya telak: agen Meta tersebut kedapatan berbelanja tanpa identifikasi yang jelas, memicu kekhawatiran besar terhadap keamanan data akun dan kredensial pelanggan.
Belum Siap Gaspol
Kendati demikian, kelompok bank global ini tidak serta-merta menutup pintu bagi masa depan belanja AI. Mereka mengakui teknologi ini berpotensi besar menjadi arus utama transaksi masa depan.
Hanya saja, ada syarat mutlak sebelum fitur ini layak diandalkan secara massal: regulasi, standar industri, dan perlindungan konsumen harus dikebut. Pasalnya, saat ini laju perkembangan teknologi AI terbukti jauh melampaui sistem pengamanannya.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]