Liputan6.com, Paris - Aparat keamanan Prancis menangkap seorang pria pada hari Selasa yang diduga terkait dengan kelompok sayap kiri radikal atas pembakaran balai kota berjarah di Prancis tengah. Peristiwa pembakaran tersebut terjadi pada akhir pekan di sela-sela aksi unjuk rasa berskala nasional.

Dikutip dari EuroNews, Rabu (21/10/2026), kepolisian antiteror turut dikerahkan untuk menyelidiki dugaan pembakaran sengaja terhadap balai kota di kota Limoges. Bangunan yang dibangun sejak tahun 1883 tersebut mengalami kehancuran parah setelah atap dan menara loncengnya runtuh akibat dilalap si jago merah pada hari Sabtu.

Kehancuran bangunan berjarah ini menjadi simbol maraknya kerusuhan brutal yang meletus di sela-sela aksi protes pada hari Sabtu. Unjuk rasa tersebut awalnya digelar sebagai bentuk kemarahan publik atas berbagai persoalan, termasuk lonjakan biaya hidup dan kondisi fasilitas sekolah.

Detik-detik ambruknya bangunan saat dilalap api membangkitkan kembali ingatan publik Prancis pada tragedi kebakaran Katedral Notre-Dame di Paris pada April 2019 lalu. Meski kebakaran Notre-Dame diyakini penyidik terjadi secara tidak sengaja, peristiwa itu sempat menggegerkan seluruh negeri.

Kantor Kejaksaan Limoges menyatakan bahwa terduga pelaku yang diperkirakan berusia 40 tahun tersebut ditangkap oleh satuan kepolisian khusus RAID di kota tetangga, Val d'Issoire.

Berdasarkan keterangan sumber yang dekat dengan kasus ini, pria tersebut sebelumnya memang telah masuk dalam daftar pengawasan karena dinilai berpotensi menjadi ancaman dan memiliki keterkaitan dengan gerakan sayap kiri ekstrem.

Sementara itu, Sub-Direktorat Antiterorisme Prancis (SDAT)—salah satu cabang kepolisian yudisial—telah dipanggil untuk menyelidiki kasus ini lebih lanjut, menurut sumber lain yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.

Menteri Kehakiman Prancis, Gérald Darmanin, pada Senin malam menyampaikan bahwa jaksa antiteror akan segera memutuskan apakah akan menyelidiki insiden ini sebagai serangan teror.

"Jika mereka mengambil alih kasus ini, itu berarti insiden tersebut merupakan aksi terorisme, yang mengindikasikan bahwa individu-individu tertentu, khususnya dari kelompok sayap kiri jauh, secara jelas mengorganisir pengrusakan balai kota ini," tegas Darmanin kepada saluran televisi Prancis, TF1.

Di sisi lain, Wali Kota Limoges dari faksi kanan, Guillaume Guerin, mengecam keras penanganan pihak kepolisian. Menurutnya, aparat "kekurangan sumber daya yang memadai" dan memilih "mundur" saat berhadapan dengan para perusuh.

Guerin mendesak pemerintah pusat untuk "mencairkan dana jutaan euro" guna membangun kembali balai kota, sembari menambahkan bahwa "negara telah gagal." Kantor Perdana Menteri Sebastien Lecornu mengonfirmasi bahwa ia dijadwalkan mengunjungi Limoges pada hari Jumat mendatang.

Sebagai latar belakang, sekitar 5.000 orang—termasuk 700 individu yang digambarkan oleh pihak berwenang sebagai kelompok "terradikalisasi dan sangat keras"—turun ke jalan dalam demonstrasi di Limoges pada hari Sabtu. Menyikapi aksi kekerasan tersebut, sekitar 7.000 warga kemudian menggelar aksi protes damai pada Minggu malam untuk mengecam aksi perusakan yang terjadi.