Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:04 WIB
Jakarta, VIVA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa ekspor produk baja Indonesia dikenai bea masuk hingga 50% di Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Inggris.
Baca Juga
Menurut Airlangga, kebijakan tersebut berkaitan dengan agenda Global Excess Steel yang dijalankan AS dan posisi baja sebagai komoditas strategis.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Baja, selama ini menjadi komoditas yang dinilai penting untuk kebutuhan sipil, pertahanan, hingga industri ruang angkasa.
Baca Juga
"Oleh karena itu mereka sangat concern terhadap keberadaan steel mill ataupun industri steel supaya tetap ada di negara masing-masing, apakah itu di Eropa, apakah itu di Amerika," ujar Airlangga dalam acara Downstream Insight 2026 di Jakarta pada Selasa (6/10/2026).
Imbasnya, kata Airlangga, kebijakan perang tarif ini turut memengaruhi produk baja asal Indonesia yang masuk ke pasar negara-negara tersebut.
Baca Juga
Dia menyebut kebijakan tersebut diterapkan oleh negara-negara yang selama ini terlibat dalam sistem perdagangan multilateral dan menjadi bagian dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
"Mereka dalam tanda petik tidak bisa bersaing dengan Indonesia, mereka mengenakan bea masuk untuk steel 50 persen di Amerika. Eropa juga enggak mau kalah, steel dari Indonesia juga 50 persen. Inggris juga enggak mau kalah, steel dari Indonesia 50 persen," kata Airlangga
Dengan demikian, Airlangga merasa bahwa Indonesia perlu menyiapkan langkah untuk menjaga daya saing industri nasional sekaligus memastikan pasar domestik dapat dimanfaatkan produsen dalam negeri.
Menurut dia, kebijakan-kebijakan perdagangan tersebut perlu menjadi perhatian Indonesia, sembari mempersiapkan langkah sejenis untuk menjaga industri di dalam negeri tetap kompetitif.
“Selain itu, agar pasar di dalam negeri juga bisa dinikmati oleh produsen-produsen yang ada di dalam negeri, yang dibutuhkan bagi kita untuk penciptaan lapangan kerja dan untuk pertumbuhan ekonomi,” ujar Airlangga.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor Indonesia masih mencatat pertumbuhan pada sejumlah komoditas nonmigas.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ekspor migas pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,99 miliar dolar AS atau turun 5,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara ekspor nonmigas mencapai 25,62 miliar dolar AS atau tumbuh 7,23 persen secara tahunan.
Halaman Selanjutnya
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan ekspor nikel dan barang daripadanya meningkat 51,67 persen secara tahunan dengan kontribusi 1,84 persen terhadap pertumbuhan total ekspor.