Badai hingga AC Mati, Penumpang Emirates Terjebak 17 Jam di Pesawat
CNN Indonesia
Kamis, 30 Jul 2026 12:00 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --
Ratusan penumpang pesawat superjumbo Airbus A380 milik maskapai Emirates rute Dubai-Shanghai harus merasakan pengalaman tidak menyenangkan usai cuaca buruk yang memaksa penerbangan mereka dialihkan ke Hangzhou.
Rentetan masalah teknis dan operasional membuat para penumpang terjebak di dalam kabin pesawat selama 17 jam.
Mengutip laporan South China Morning Post, pendaratan pesawat penumpang terbesar di dunia tersebut di Bandara Internasional Xiaoshan Hangzhou mulanya disambut antusias oleh para pencinta penerbangan. Namun, pengalihan tersebut dengan cepat berubah menjadi situasi yang penuh ketidakpastian bagi seluruh penumpang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penerbangan Emirates EK302 sejatinya tengah mendekati Bandara Internasional Pudong Shanghai usai mengudara selama kurang lebih tujuh jam. Namun, badai petir yang hebat membuat kondisi pendaratan tidak aman, sehingga kru memutuskan mengalihkan pendaratan ke Hangzhou.
Pilihan Redaksi
- Pemegang Paspor RI Kini Bisa Masuk UEA Tanpa Visa, Ini Syaratnya
- Tidur Pulas, Emirates Inovasi Pasang Sandaran Kepala di Kursi Pesawat
- Dubai Bagi-bagi Hadiah Rp14,4 Juta buat Warga yang Bisa Ajak Turis
Sebanyak 373 penumpang dan kru akhirnya harus bertahan di dalam pesawat selama 17 jam, di mana durasi waktu menunggu di landasan pacu tersebut bahkan melampaui total waktu penerbangan asli dari Dubai ke Shanghai.
Mulanya, kru penerbangan berencana menunggu hingga cuaca di Pudong membaik sebelum melanjutkan perjalanan. Hal ini membuat prosedur imigrasi bagi penumpang di Hangzhou tidak langsung diaktifkan.
Namun, lamanya penundaan membuat masa kerja awak pesawat habis melampaui batas hukum yang diatur dalam regulasi penerbangan. Kondisi ini mewajibkan Emirates untuk mendatangkan tim kru pengganti sebelum pesawat diperbolehkan kembali mengudara.
Kru pengganti yang dikirim dari Shanghai menuju Hangzhou mengalami keterlambatan akibat hujan deras yang mengguyur perjalanan darat mereka.
Selama masa penantian yang panjang, sistem pendingin udara (AC) pesawat dilaporkan sempat mati total hingga membuat kondisi di dalam kabin terasa sangat menyesakkan. Sejumlah penumpang bahkan memerlukan bantuan layanan darurat setelah merasa tidak enak badan.
Kru pengganti tiba sekitar pukul 04.00 pagi dan langsung menyalakan kembali sistem pesawat. Namun, pemeriksaan teknis lanjutan justru menemukan kendala baru yang membuat armada tersebut tetap tidak bisa lepas landas.
Para penumpang baru diizinkan keluar dari pesawat pada pukul 06.00 pagi, setelah hampir 17 jam terisolasi di dalam kabin.
Pihak maskapai kemudian menyediakan fasilitas hotel serta opsi transportasi darat bagi para penumpang untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Shanghai. Sementara itu, armada A380 tersebut dikandangkan atau grounded selama dua hari di Hangzhou sebelum akhirnya terbang kembali ke Dubai.
Pihak Emirates melayangkan permohonan maaf atas ketidaknyamanan tersebut dan menjelaskan bahwa penundaan terjadi akibat akumulasi faktor cuaca, kendala teknis, hingga prosedur pergantian kru.
Emirates juga membela keputusannya untuk tetap menahan penumpang di dalam pesawat, dengan menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan prosedur standar penerbangan internasional guna menghindari kerumitan birokrasi imigrasi serta biaya tambahan.
Insiden ini turut memicu kritik terhadap penanganan pihak Bandara Hangzhou, terutama terkait komunikasi antara pengelola bandara dan pihak maskapai selama masa penundaan yang berkepanjangan.
(wiw)
[Gambas:Video CNN]