Bengkayang (ANTARA) - Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan helikopter water bombing di kawasan Bukit Peramas, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat belum dapat dilakukan karena jarak pandang terbatas akibat kepungan kabut asap tebal.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan, kondisi tersebut membuat pilot tidak dapat melakukan manuver penyiraman dari udara secara aman, terlebih lokasi kebakaran berada di kawasan perbukitan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).
"Karena kondisi kabut yang terlalu tebal, apalagi yang akan dipadamkan di Bukit Peramas, untuk manuver agak terganggu. Akan berbeda dengan kondisi daerah datar," katanya saat meninjau kondisi karhutla di Kabupaten Kayong Utara, Senin.
Menurut Norsan, pemerintah saat ini menyiagakan dua unit helikopter water bombing untuk mendukung penanganan karhutla di Kalimantan Barat. Sebelumnya terdapat tiga unit, namun satu helikopter dialihkan untuk membantu penanganan kebakaran di kawasan Bromo.
"Yang pertama water bombing, nah kita ini ada tadinya tiga water bombing ya, yang satu kebetulan membantu di Bromo, kebakaran di Bromo, jadi kita tinggal dua," ujarnya.
Dua helikopter tersebut ditempatkan di lokasi berbeda untuk memperluas jangkauan penanganan karhutla. Satu unit disiagakan di Ketapang untuk mengover wilayah Ketapang dan Kayong Utara, sedangkan satu unit lainnya berada di Pontianak dan dapat digerakkan ke wilayah lain yang membutuhkan penanganan darurat.
"Yang satu standby di Ketapang, satu ada di Pontianak, untuk manuver di mana-mana, misalnya di Sintang atau di Kapuas Hulu," katanya.
Namun, helikopter yang disiagakan di Ketapang belum dapat melakukan operasi water bombing di Bukit Peramas dalam beberapa hari terakhir karena jarak pandang yang tidak memungkinkan.
Norsan mengatakan, kondisi medan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam operasi pemadaman dari udara. Kawasan Bukit Peramas yang memiliki kontur berbukit membutuhkan ruang manuver yang cukup bagi helikopter, sementara kabut asap tebal mengurangi jarak pandang pilot.
Atas pertimbangan keselamatan penerbangan, operasi water bombing di kawasan tersebut untuk sementara dihentikan hingga kondisi cuaca dan jarak pandang memungkinkan.
"Kalau jarak pandang sudah agak sedikit bagus, akan beroperasi lagi helikopter water bombing-nya," ujarnya.
Norsan menegaskan penanganan karhutla tetap dilakukan dengan dukungan personel dan upaya pemadaman di darat, sementara operasi pemadaman melalui udara akan kembali dilakukan setelah kondisi memungkinkan dan memenuhi aspek keselamatan penerbangan.
Pewarta: Narwati
Uploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.