Istanbul (ANTARA) - Amerika Serikat menolak permintaan Arab Saudi untuk melancarkan serangan militer langsung terhadap pemberontak Houthi di Yaman setelah kelompok tersebut merebut kota pelabuhan strategis Mokha.
Situs berita Axios pada Kamis melaporkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menghubungi Presiden AS Donald Trump dua kali dalam waktu berdekatan pada Kamis untuk meminta dukungan operasi udara Amerika ketika kelompok pemberontak tersebut bergerak menuju Selat Bab al-Mandeb.
Dalam kontak pertama, pemimpin Saudi tersebut menyampaikan kemunduran pasukan Yaman yang menjadi sekutu Riyadh, sebelum beberapa jam kemudian secara resmi meminta intervensi militer langsung.
Trump menolak permintaan tersebut untuk mempertahankan fokus strategis AS pada Iran dan Selat Hormuz, serta menghindari pembukaan medan konflik baru, kata sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut kepada Axios.
Meski menolak melancarkan serangan udara langsung, Gedung Putih menyetujui pemberian bantuan nonkinetik dengan mengizinkan transfer informasi intelijen dan data penargetan yang dapat digunakan untuk membantu pasukan Saudi.
Berbagi informasi tersebut melengkapi sekitar 200 personel militer AS yang ditempatkan di Arab Saudi untuk menjalankan tugas penasihat dan penghubung.
Washington juga mengirim Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, ke Arab Saudi pada Kamis untuk melakukan konsultasi dengan pejabat senior pertahanan Saudi.
Perkembangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Riyadh dan kelompok Houthi.
Dalam pernyataannya di hadapan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada Kamis, Duta Besar Arab Saudi untuk PBB Abdulaziz Alwasil memperingatkan bahwa kerajaan akan mengambil semua langkah yang diperlukan menyusul serangan Houthi awal pekan ini.
Serangan di sejumlah lokasi sipil di kota-kota di Arab Saudi bagian selatan tersebut menyebabkan 73 orang terluka.
Adapun penguasaan Mokha dan wilayah pesisir di sekitarnya memiliki arti strategis yang sangat penting karena lokasinya berdekatan dengan Selat Bab al-Mandeb, jalur pelayaran vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Yaman kembali mengalami eskalasi militer antara pasukan pemerintah dan Houthi sejak awal Juli, setelah bertahun-tahun relatif tenang menyusul gencatan senjata yang dimulai pada April 2022.
Houthi telah menguasai ibu kota nasional Sanaa dan sebagian besar wilayah Yaman bagian utara serta barat sejak September 2014, sementara pemerintah dan pasukan sekutunya menguasai wilayah di bagian selatan dan timur.
Sejak Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman dalam menghadapi Houthi, yang dituduh menerima dukungan dari Iran.
Sumber: Anadolu
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: AS tolak permintaan Arab Saudi untuk menyerang kelompok Houthi
Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.