-
Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan Rabu kemarin, IHSG melemah sementara rupiah dan harga SBN menguat.
-
Wall Street berakhir beda arah meskipun inflasi PCE jauh lebih rendah dari proyeksi
-
Perkembangan perang, rilis data manufaktur, neraca dagang, dan inflasi RI akan menjadi penggerak pasar hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sementara rupiah menguat. Harga Surat Berharga Negara (SBN) juga menguat seiring penurunan yield tenor 10 tahun.
Memasuki perdagangan Kamis (1/10/2026), pelaku pasar akan mencermati perkembangan data inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS, sinyal kenaikan suku bunga tambahan dari The Fed, serta kelanjutan sentimen meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG menutup perdagangan terakhir September di zona merah. Setelah sempat menguat pada awal sesi, indeks berbalik turun 0,83% atau 50,56 poin ke level 6.071,14 kemarin, Rabu (30/9/2026).
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif dalam rentang sekitar 116 poin, dengan posisi tertinggi di level 6.187 dan ditutup di posisi terendah hariannya.
Volume perdagangan mencapai 30,11 miliar saham dengan nilai transaksi Rp14,01 triliun dan frekuensi 1,80 juta kali. Tekanan terutama datang dari sektor konsumer primer yang merosot 2,34%, disusul teknologi sebesar 0,95%.
Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 1,61 triliun.
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turut menjadi pemberat pergerakan indeks.
Dari luar negeri, investor mencermati pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengenai kemungkinan satu kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir 2026.
Di pasar mata uang, Rupiah menutup perdagangan kemarin, Rabu (30/9/2026), dengan penguatan tajam.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda terapresiasi 0,50% ke posisi Rp17.870/US$, menguat 90 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.960/US$.
Penguatan tersebut membawa rupiah menjauh dari level psikologis Rp18.000/US$ yang sempat ditembus pada perdagangan intraday sehari sebelumnya. Rupiah dibuka menguat di Rp17.910/US$ dan sempat menyentuh posisi terkuat hariannya di Rp17.825/US$.
Penguatan rupiah terjadi seiring pelemahan dolar AS. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) turun 0,10% ke posisi 101,269. Sentimen pasar juga membaik menyusul kabar peluang meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menyebut laporan mengenai keterbukaan Gedung Putih untuk mempertimbangkan peninjauan kembali sanksi terhadap Iran turut memperbaiki sentimen pasar.
Meredanya kekhawatiran terhadap pasokan energi menekan harga minyak dunia. Pada penutupan Selasa, minyak WTI turun 3,95% menjadi US$88,95 per barel, sementara Brent melemah 1,99% ke US$95,88 per barel.
Pelaku pasar selanjutnya mencermati rilis data ekonomi AS untuk membaca arah kebijakan The Fed.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun ke level 7,106% dari posisi sebelumnya di 7,219%. Penurunan yield sebesar 11,3 basis poin tersebut mencerminkan penguatan harga SBN tenor 10 tahun.