PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) memperkuat cengkraman bisnis hijau energi terbarukan dengan menambah tiga proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Batam dan Bintan. Penambahan itu membuat total kapasitas pembangkit terkontrak perseroan mencapai 118,1 megawatt (MW).
ARKO melakukan perjanjian operational lease dengan PT Batamindo Investment Cakrawala (BIC), PT Bintan Inti Industrial Estate (BIIE) dan PT Bintan Resort Cakrawala (BRC). Perjanjian tersebut dijalankan melalui PT Endorshine Energi Matahari (EEM), anak usaha ARKO yang bergerak di pengembangan proyek PLTS.
Ketiga proyek tersebut memiliki total kapasitas 34 megawatt peak (MWp) dan akan dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 28,3 megawatt hour (MWh). Proyek itu menjadi PLTS ketiga, keempat, dan kelima dalam portofolio ARKO.
Direktur ARKO, Ricky Hartono mengatakan, penggunaan BESS menjadi pembeda utama ketiga proyek tersebut dibandingkan portofolio PLTS perseroan sebelumnya. Teknologi itu memungkinkan listrik yang dihasilkan panel surya pada siang hari disimpan untuk digunakan saat kebutuhan meningkat, termasuk pada malam hari atau ketika cuaca mendung.
"Kalau proyek PLTS pertama dan kedua yang baru saja kami akuisisi merupakan aset yang sudah siap beroperasi, kali ini kami akan membangun dari awal. Serta, untuk pertama kalinya kami akan mengintegrasikan BESS ke proyek PLTS tersebut," ungkap Ricky dalam keterangan resminya yang dikutip pada Jumat (28/8).
Menurut dia, pengembangan proyek dari tahap awal sekaligus integrasi teknologi penyimpanan energi menjadi langkah baru bagi ARKO dalam mengembangkan pembangkit energi terbarukan.
Setelah penambahan tiga proyek tersebut, ARKO memiliki total kapasitas terkontrak 118,1 MW. Kapasitas itu terdiri atas enam proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan total kapasitas 62,8 MW dan lima proyek PLTS dengan kapasitas 55,3 MWp.
Dari lima proyek PLTS tersebut, tiga proyek yang dikembangkan bersama BIC, BIIE, dan BRC akan dilengkapi BESS dengan total kapasitas 28,3 MWh.
ARKO juga masih memiliki pipeline proyek energi terbarukan dengan total kapasitas lebih dari 300 MW. Pipeline tersebut menjadi ruang bagi perseroan untuk memperluas bisnis energi bersih sekaligus mendukung target transisi energi dan pencapaian net zero emission (NZE) Indonesia pada 2060.
Ricky mengatakan, pengembangan PLTS di Batam dan Bintan merupakan bagian dari strategi ARKO untuk terus memperluas bisnis, baik secara organik maupun anorganik.
"Hal ini juga merupakan upaya kami dalam memaksimalkan nilai tambah bagi para pemegang saham serta seluruh mitra kami. Kami akan terus bertumbuh, baik secara organik maupun anorganik, sekaligus memperluas kontribusi perseroan dalam penyediaan energi bersih," kata dia.
Sebelumnya, entitas Grup PT Astra International Tbk (ASII) itu merampungkan aksi akuisisi 99,9% saham milik PT Endorshine Energy Solutions (Endorshine), yaitu PLTS di Batam dan Bintan, Kepulauan Riau. ARKO membeli saham Endorshine dari pemegang saham sebelumnya, Yang Solar Solutions Pte Ltd.
Melalui akuisisi tersebut, ARKO kini mengoperasikan dua PLTS dengan total kapasitas 21,3 megawatt peak (MWp). Kedua fasilitas itu terdiri atas PLTS berkapasitas 10,27 MWp di Bintan dan 11,05 MWp di Batam.
Akuisisi dilakukan melalui PT Arkora Tenaga Matahari (ATM), anak usaha yang secara khusus dibentuk ARKO sebagai kendaraan untuk memperluas portofolio bisnis ke sektor energi surya. Berdasarkan surat Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-AH.01.09-0393673 yang diterima perseroan pada 24 Agustus 2026, Endorshine telah efektif beroperasi di bawah ATM.
Presiden Direktur Arkora Hydro, Aldo Artoko mengatakan, akuisisi Endorshine menjadi langkah strategis perseroan untuk memperkuat posisinya sebagai pelaku industri energi baru terbarukan (EBT) yang semakin terintegrasi.
Menurut Aldo, ekspansi tersebut sekaligus mencerminkan komitmen ARKO untuk terus bertumbuh dengan memanfaatkan berbagai peluang pengembangan bisnis, baik secara organik maupun melalui aksi korporasi anorganik.
“Akuisisi ini juga menjadi bagian dari upaya kami untuk terus memperluas kontribusi dalam penyediaan energi bersih, sejalan dengan visi kami untuk menerangi Indonesia dengan energi terbarukan serta mendukung percepatan transisi energi nasional,” ungkap Aldo dalam keterangannya, dikutip pada Kamis (27/8).